Senin, 26 Desember 2011

CURRY si Hiu Kolam jadi Hiu Lautan Bab 3


NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN

Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP

 

TANAMKAN ENTREPRENEURSHIP SEJAK DINI & UNTUK SEMUA ORANG TIDAK PERNAH ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MEMPELAJARI ENTREPRENEURSHIP
 
                                                                    Antonius Tanan

Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
---------------------------------------------------------------

BAB 3
Bertemu dengan Cute
Cury berpisah dengan Hiu Mentor. Perasaannya kacau balau, ada rasa gembira, takut, khawatir juga harapan. Ia merasa ini peluang yang bagus, namun di satu sisi ia juga merasa khawatir pertemuan ini akan berbahaya baginya. Inikah yang dinamakan perubahan? Tanyanya dalam hati. Saat ia tengah berenang dengan pikiran kalut, Cute, seekor hiu seusianya yang juga sahabat Cury mendekati dirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya ia mengintip apa yang telah dilakukan Cury bersama Hiu Mentor.
Cute, adalah hiu yang lucu, gampang tertawa dan juga menangis. Selain itu, ia kadang berani, kadang penakut. Apapun yang dirasakan Cute, selalu terlihat di wajahnya yang selalu tampak tak berdosa. “Aduh Cury, kamu berani benar berenang di Daerah Penuh Resiko. Kamu tahu itu berbahaya. Cury, kamu jangan kesana lagi, awas, kalau kamu masih mendatangi tempat itu, akan kulaporkan ulahmu pada ayah dan ibumu serta para tetua hiu!”
Cury tersenyum. Ia langsung teringat apa yang dikatakan Albert Einstein. ”Hanya orang gila yang berharap hasil yang berbeda dari tindakan yang sama secara terus menerus.”
“Terima kasih atas perhatianmu Cute, aku hanya ingin mengetahui semua kemampuan dan potensi diriku. Aku merasa  dilahirkan bukan untuk menjadi hiu kolam.”
“Kamu maunya apa sih? Kita kan sudah enak tinggal di sini. Kamu mau apa lagi? Di laut luas kamu harus kerja keras mencari makan sendiri. Di sini kita tinggal terima bersih, tidak perlu repot-repot mencari makanan. Duh Cury, aku tidak paham jalan pikiranmu.” Keluh Cute dengan mimik wajah ketakutan.
“Aku malah berpikir sebaliknya, kalau kita terus-menerus berada di sini, lambat laun kita akan mati kegendutan.”
“Cury...Cury...apakah kamu tidak ingat waktu jeruji besi kolam kita jebol? Kita kelabakan mencari makanan dan jalan pulang. Ingat sobat, kita tidak bisa meninggalkan kebiasaan kita sebagai hiu kolam.” Cute terus menasehati Cury. “Kamu harus ingat akan nasehat orangtua dan para sesepuh hiu di kolam kita,  bahwa di lautan luas, di luar dari jeruji sangat berbahaya. Kamu akan mati di sana Cury, hidup di laut luas penuh resiko, tahu!”
Cury menutup telinganya, ia tahu bahwa semakin banyak ia berikan kesempatan kepada Cute untuk menasehatinya, maka keberanianya akan menurun. Lalu ia berkata dengan tegas pada sahabatnya itu, “Cute, aku tahu bila kucoba bisa saja aku beresiko gagal, namun kalau tidak kucoba itu sama artinya aku memutuskan untuk gagal. Sobat, hidup ini selalu ada resiko untuk perubahan, aku sudah mengukur resiko itu, hidup ini sangat berharga, itu sebabnya aku tidak mau melakukan hal-hal yang biasa. Selain itu  Hiu Mentor terbukti bisa dipercaya, kalau ia hendak memangsa aku, tidak perlu besok,  ia lakukan ketika aku dekat dengannya, dia bisa membuka jeruji besi dengan mudah. Tapi nyatanya dia tidak tidak melakukannya.” Cury diam sejenak. Ia merenungkan kembali momen-momen pertemuannya dengan Hiu Mentor.
Lalu katanya lagi pada Cute, “Ketika aku makin dekat dengan Hiu Mentor, sesungguhnya aku merasakan keberanianku makin bertambah, tatapan matanya membuat aku merasa percaya diri, ucapannya membuat aku makin bersemangat, ia seekor hiu yang percaya bahwa kemampuanku lebih daripada aku percaya kepada diriku sendiri.” 
“Tapi bisa saja dengan cara begitu dia mencoba menjebakmu, nanti setelah kamu berada di laut luas, dia akan memakanmu. Di sana tidak seekor hiu kolam pun yang bisa menolongmu!”
Tapi Cury sudah membulatkan tekad. “Selama bertahun-tahun aku melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama bersama hiu yang sama. Aku juga menikmati hasil yang sama terus menerus. Kalau aku meneruskannya aku sudah dapat menebak apa yang akan terjadi tahun depan di tanggal yang sama. Jauh dalam lubuk hatiku aku merasa bahwa aku dilahirkan bukan untuk itu. Aku akan bergerak menuju impian-impian masa depan. Cute sahabatku, aku berjanji untuk berhati-hati, aku akan memperhitungkan resiko dari semua yang aku lakukan, aku akan menemuimu setiap saat, dan  menceritakan pengalamanku. Kumohon jangan halangi aku untuk mencoba sesuatu yang baru..”
Restu Seorang ibu
Cury seorang anak yang taat, ia tahu rencana masa depannya akan mendapatkan banyak tantangan namun ia memutuskan untuk mendapatkan restu terlebih dahulu dari orang tuanya dan untuk itu ia menemui ibunya.
“Bunda, aku tidak mau jadi hiu kolam sampai aku mati, aku ingin jadi hiu lautan yang mampu menjelajah lautan kemanapun aku suka...” Cury dengan wajah memelas memohon restu ibunya untuk bergabung dengan hiu mentor.
Ibu Cury ternyata seorang ibu yang penuh pengertian dan sangat bijaksana dengan mengelus kepala Cury ia berkata:
“Bunda bangga memiliki anak pemberani, kakek nenek kita memang hiu lautan. Benih-benih keberanian, kreativitas dan keperkasaan hiu kolam sudah terpenjara oleh rasa takut kita sendiri selama bertahun-tahun. Untunglah itu tidak punah sama sekali dalam diri mu anakku..., kita memang bukan seharusnya berada di kolam”
Cury seakan tidak percaya, ia memandang wajah ibunya yang dengan seyum yang paling manis dan mata yang penuh kebanggaan menatapnya. Cury merangkul ibunya dan berterima kasih berkali-kali.
“Cury lakukan apa yang ada dalam hatimu, restu ibu menyertaimu namun berhati-hatilah dan untuk sementara ini jangan dulu ceritakan kepada siapapun....”


---------------------------------------------- End Chapter 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar