NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN
Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP
|
Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
-------------------------------------------------------------------
Cury mendengar kisah itu sambil geleng-geleng kepala. Ia tidak habis mengerti, mengapa hiu kolam begitu takut berada di lautan luas. Kini, di saat besi-besi itu kembali aus dan patah, ia melihat lagi kekhawatiran para hiu kolam. Kedua orangtuanya juga terlihat cemas, ia menatap kecemasan orangtuanya dengan bola mata yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Ekornya bergoyang. Tatkala suara “Dhuar” terdengar, Cury tidak ingat apa-apa lagi. Ia hanya merasakan ayahnya menggigit siripnya dan menarik dirinya agar selalu dekat dengannya.
Terali yang membatasi kolam akhirnya hancur berantakan. Besi-besi itu tidak kuat lagi menahan terjangan arus air laut yang tajam menukik dan deras. Hampir semua ikan hiu yang ada di dalamnya tercerai-berai, terhempas ke lautan luas yang dalam, kelam dan gulita. Arus laut yang deras menyeret mereka hingga ke tengah samudra. Semua ikan hiu itu seakan mahluk asing di tengah laut, mereka kebingungan mencari jalan pulang. Cury, ayah dan ibunya beruntung masih tetap bersatu. Sang ayah terus membentengi keluarganya agar tidak terlepas dari dirinya.
“Jangan berenang menjauh dariku. Ingat, jika kalian menjauh, ikan-ikan paus raksasa akan menelan kalian hidup-hidup!” ayahnya memperingatkan.
Beberapa ikan hiu yang juga menjadi penghuni kolam, membuntuti ayah Cury. Mereka berenang kian kemari, mencari teman-teman mereka yang kesasar entah kemana. Ayah Cury menjadi pemandu, ia mencari jalan agar bisa kembali ke tepian pantai tempat mereka dulu tinggal.
“Kita harus kembali ke kolam. Di sini bahaya selalu mengintai. Di sini tidak ada makanan, kita tidak bisa masuk ke dasar lautan untuk mencari makan, di bawah sangat rawan, nanti kita diterjang ikan duri runcing yang tajam!” tegas Ayah Cury.
“Iya, kita harus kembali ke kolam!” hampir serempak ikan-ikan hiu itu berteriak.
Cury hanya diam. Ia masih dihantui oleh pikirannya sendiri. “Hm…ikan-ikan hiu yang aneh, mengapa harus takut berada di tengah samudra? Bukankah di sini kita bisa mencari makanan yang kita suka?” Cury ingin mengatakan hal itu pada ayahnya. Namun lagi-lagi ia cemas, takut ayahnya akan marah.
Cury ingat, dulu sang ayah pernah berkata, “Jangan pernah berenang di sekitar pintu jeruji besi, sebab di balik pintu terdapat dunia yang menakutkan!” Seperti apa kata ‘menakutkan’ itu? Cury tidak pernah mendapatkan penjelasan yang pasti. Karena ia tahu ayahnya belum pernah pergi ke laut lepas. Kisah tentang ganasnya lautan luas pun diperolehnya secara turun-temurun.
Hiu-hiu kolam teman seperjuangan ayah Cury terus mengikuti ekor ayahnya. Mereka membentuk iring-iringan ikan hiu yang panjang dan tidak terpisahkan. Cury melihat hal itu sangat aneh dan lucu. Ia ingin berkata pada mereka, “Hei, kalian hiu-hiu yang gemuk, kuat dan tangkas, mengapa kalian takut menghadapi lautan lepas?” namun Cury hanya berani berucap dalam hati. Tatkala ia agak sedikit menjauh dari ayahnya, sang ayah dengam teriakan lantang memanggilnya.
“Cury, jangan menjauh dari kami, nanti kamu ditusuk ikan duri runcing yang tajam, ayo cepat kesini, dekat dengan Ayah!” .
Cury meliuk-liuk, dengan wajah segan ia mendekati tubuh ayah dan ibunya. Hm…ikan duri runcing… seberapa jagonya sih dia? Jika dia berani menyerangku, akupun bisa membalasnya, akan kugigit dia dengan gigi-gigiku yang runcing! Gumam Cury dalam hati.
Perjalanan panjang menuju ke tepian laut mulai menunjukkan hasil. Beberapa ikan hiu tampak lemas dan kelaparan.
“Aduh, kapan kita tiba? Aku lapar nih, biasanya, jam-jam seperti ini pegawai-pegawai pak Harno sudah memberikan kita daging mentah yang segar. Kapan kita sampai Ayah Cury…” keluh seekor ikan hiu gemuk dengan gigi-gigi taringnya yang mulai tumpul.
“Sabar paman gembul, kalau lapar, paman bisa minum air laut saja sebanyak-banyaknya. Sebentar lagi kita sampai!” ledek Cury.
“Hus, kamu jangan kurangajar dengan yang lebih tua. Ayo minta maaf!” omel ibunya.
Cury menggerutu, itulah akibat sudah terbiasa hidup senang. Tiap hari diberi makan enak tanpa mau usaha. Akhirnya sekarang mulai terasa, baru berenang beberapa kilometer sudah lapar, gumamnya dalam hati.
Rombongan terus meluncur. Ayah Cury menjadi pemandu perjalanan. Jalan menuju pantai ternyata tidak selalu mulus, kadang mereka berhadapan dengan segerombolan ikan pari, kadang mereka bertemu dengan duri laut dan binatang laut lainnya. Hal yang paling membuat rombongan ikan hiu ini ketakutan tatkala mereka bertemu dengan sebuah benda besar berwarna coklat kehitaman. Bentuknya hampir segi empat panjang, di kedua ujungnya meruncing namun tidak tajam. Melalui lubang-lubang yang ada di sisi kiri dan kanannya, keluar gelembung-gelembung, air laut bergemuruh tatkala ia lewat, suaranya menderu dan memekakkan telinga, benda ini berjalan peralahan, kadang miring ke kiri, kadang ke kanan.
Cury penasaran ia ingin tahu benda apakah itu. Tatkala ia mencoba mendekati, ayahnya spontan berteriak. “Anak nakal, jangan mendekat. Nanti kamu akan dijaring dan ditangkap!”
Meski patuh dan menjauh, Cury tetap penasaran. “Benda apa itu, Yah?” tanyanya ingin tahu.
“Itu kapal pukat penangkap ikan. Jika orang-orang yang ada di atas kapal itu tahu keberadaan kita, maka mereka akan menangkap kita. Mereka akan mengambil sirip kita untuk obat awet muda dan kecantikan, lalu mata kita akan dicungkilnya untuk obat umur panjang, telur kita akan dijadikan minyak ikan untuk obat kuat, dan daging-daging kita akan disayat-sayat dijadikan ikan dalam kaleng, kamu mengerti!”
“Kok, Ayah tahu?”
“Iiih anak ini, sudah, dengarkan saja Ayahmu, jangan banyak tanya. Ayo cepat, kita berenang lebih cepat lagi ke kolam!” bentak ibunya.
Benar seperti kata ayah Cury, benda hitam yang mereka lihat adalah kapal pukat yang sedang mencari ikan hiu dan ikan-ikan besar lainnya untuk dijadikan ikan kaleng. Untung saja mereka berenang agak dalam, sehingga nakhoda kapal tidak melihat keberadaan mereka.
Rombongan ikan hiu itu terus melaju. Beberapa ikan kembali mengeluh lapar. Tatkala mereka melihat serombongan ikan-ikan kecil, Cury hendak menangkapnya, namun lagi-lagi ayahnya melarang.
“Jangan lakukan itu Cury, nanti raja mereka datang dan menyerang kita. Mereka memang kecil serta bisa kita lahap dengan cepat, tapi ingat, jika mereka melaporkan perbuatan kita, maka tamatlah riwayat kita semua!” perintah ayahnya.
“Siapa rajanya, Yah?”
“Entahlah, setiap kumpulan ikan pasti punya raja, haiyaa…kamu ini kok cerewet sekali, sudah berenang saja dengan cepat!”
“Kalau kita lapar, masak kita tidak berusaha, Yah?”
“Lalu apa yang ada di otakmu? Kamu akan mencari apa untuk mengisi perut yang lapar?”
“Aku? Hm…akan kumakan ikan-ikan kecil itu. Manusia juga memakan ikan, masak kita tidak boleh. Daripada dimangsa manusia, lebih baik kita dulu yang memangsa mereka! Yah, kalau kita lapar, kita kan harus berusaha untuk mencari makanan.Tidak mungkin kita berharap pada pegawai-pegawai pak Harno untuk memberikan kita makan. Kalau dalam keadaan sulit begini, kita harus berusaha, Yah!”
“Sudah, jangan banyak omong, sebentar lagi kita sampai. Ayo, gerakkan siripmu, hup…hup…hup…kita berenang dengan cepat!” (Bersambung)
------------------------------------------------------------------------ End of Chapter 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar