Senin, 26 Desember 2011

CURRY si Hiu Kolam jadi Hiu Lautan Bab 5

NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN

Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP

 


TANAMKAN ENTREPRENEURSHIP SEJAK DINI & UNTUK SEMUA ORANG TIDAK PERNAH ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MEMPELAJARI ENTREPRENEURSHIP
 
                                                              
                                                     Antonius Tanan

Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
-----------------------------------------------------------------
Bab 5
Tsunami
Hingga suatu hari, di saat keadalam kolam tenang dan deburan ombak lembut terdengar, para hiu kolam tidak menyadari kalau sesuatu yang dahsyat dan ganas datang dari keteduhan dan kelembutan alunan gelombang laut. Suara gemuruh dari dasar laut terdengar, tanpa di duga-duga, jeruji besi yang membatasi kolam dengan lautan lepas terangkat ke atas. Kemudian, arus bawah laut berputar-putar bagai gasing, lalu semuanya kacau balau. Gelombang pasang yang disebut tsunami membabat semua yang ada, termasuk jeruji besi yang membentengi hiu kolam.
Air laut menggelegak, mengaduk-ngaduk kolam, ikan-ikan hiu yang diam di dalamnya panik,  mereka terceraiberai, mereka terseret arus ganas yang datang dengan tiba-tiba. Mereka terhempas ke lautan luas, anak-anak hiu terpisah dari induknya, dan para tetua hiu terhempas ke ujung samudra dalam keadaan lemah tak bertenaga akibat kegemukan. Tak ada seekor hiu pun yang tersisa di dalam kolam. Kolam sudah menyatu dengan laut.
Cury dengan cekatan berenang mencari ayah dan ibunya. Dalam pekatnya air laut, mata dan hidungnya yang tajam mencoba membaui seluruh areal lautan. Ia menyeruduk ke setiap tempat-tempat tersembunyi, mencari kalau-kalau kedua orangtuanya tersesat atau tertahan batu karang. Di tengah kemelutnya suasana, Cury mendengar suara isakan kecil. Ia segera meluncur ke arah suara itu. Di sana, di sudut sebuah rongsokan kapal yang karam selama ratusan tahun, ia melihat ibu, ayah, Cute, Jackal dan beberapa hiu  tengah bersembunyi, mereka sangat ketakutan. Cury segera menghampiri mereka.
“Jangan cemas, mereka sudah dijaga oleh murid-muridku. Nanti aku akan mengajarkan mereka bagaimana caranya bertahan hidup di situasi seperti ini!” Hiu Mentor muncul dari celah-celah batu karang. Rupanya, sosok dialah yang membuat ayah, ibu Cury serta beberapa hiu ketakutan.
Cury tampak gembira. Ketika ia berenang kesana dan kemari dengan lincahnya dan beberapa hiu lautan menyapa dirinya dengan hormat, ayah dan ibunya tampak bingung, hiu-hiu kolam yang ada di situ juga terbengong-bengong.
“Nak, kamu kenal dengan mereka? Lalu, hiu yang bicara tadi siapa? Di mana kamu bertemu dengannya?” berondong ayahnya dengan pertanyaan beruntun.
Kali ini Cury tidak bisa mengelak lagi. Lalu dengan penuh permohonan maaf ia menceritakan segala sepak terjangnya. “Ini guruku, Ayah. Namanya Hiu Mentor. Dialah yang mengajariku tentang beragam hal, dia mengajari aku bagaimana bisa bertahan di laut luas. Maafkan aku Yah,  karena aku sering sembunyi-sembunyi keluar dari jeruji besi di kolam tempat tinggal kita.”
Ibu Cury hanya tersenyum lega dan mengerti namun ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi, kini ia melihat sendiri bagaimana pandainya Cury berenang menjelajahi sudut demi sudut lautan yang maha luas itu. Hiu mentor kemudian menjelaskan
“Perlu saya tambahkan, saya membimbing Cury karena saya lihat ia hiu yang tangkas, gesit, kreatif dan inovatif. Dia selalu ingin tahu keadaan di luar dari kolam. Saya melihat dalam diri Cury ada jiwa entrepreneur, jiwa untuk berusaha. Melalui kreativitasnya, ia menginginkan suatu perubahan.  “Lalu, kalau kami diserang mahluk jahat, apa yang harus kami lakukan? Kami tidak memiliki ilmu untuk mempertahankan diri.” Ujar ayah Cury.
“Awalnya Cury pun demikian. Namun setelah berbulan-bulan berada di lautan luas, secara otomatis ia bisa bertahan dan mempertahankan dirinya dari serangan bahaya. Kalian jangan takut, dengan keberanian yang kalian miliki, aku rasa kalian pasti mampu bertahan!” Hiu mentor memberikan semangat.
“Iya, ngomong saja sih enak. Kami bisa dipastikan baru dua kali ini berada di laut lepas. Seperti tutur para tetua kami, dunia di laut lepas itu sangat berbahaya, tidak ada ketrentaman. Di lautan luas berlaku hukum rimba. Jika mahluk-mahluk jahat menyerang kami, apa yang harus kami lakukan?” Kata seekor hiu sembari menggoyang-goyangkan ekornya.
“Tentu saja kalian harus berusaha belajar bagaimana cara bertahan. Kalian perhatikan Cury, awalnya dia juga takut dan bertanya apakah dirinya dapat hidup di laut lepas? Ternyata, setelah dia terjun langsung dan berani mengambil resiko, dia bisa bertahan hingga kini. Malah dia dihormati hiu-hiu muda lainnya yang ada di sini.” Hiu Mentor berkata sambil menunjuk Cury.
“Ayolah, keluarkan kemampuan kalian. Jangan pesimis dan cemas dulu!”  Hiu Mentor memberi semangat. “Mengenai teman-teman kalian yang hilang, jangan takut, murid-muridku akan mencari mereka. Cury juga akan ikut serta. Dia sangat piawai berenang dan menyelusup ke tempat-tempat yang paling rawan sekalipun!”
“Jangan, jangan suruh Cury mencari mereka, nanti dia diterkam ikan bermulut runcing, seruncing anak panah!” potong ayah Cury.
“Ha…ha…ha…ayah jangan cemas, Cury yang dulu berbeda dengan Cury yang sekarang. Beberapa hari yang lalu ia berhasil mengalahkan raja ikan bermulut runcing. Sekarang malah rajanya yang takut dengan Cury. Mereka sangat hormat padanya. Percayalah, Cury sangat disegani di sini. Saya akan membuat dia menjadi pemimpin di lautan luas.” Hiu Mentor berusaha meyakinkan.
Ayah Cury diam, ia termangu. Dalam hati ia bertanya, “benarkah seperti yang dikataknnya? Benarkah putraku telah menjadi seekor hiu lautan yang hebat di lautan luas ini?”
“Saya tahu teman-teman hiu kolam sangsi dengan ucapan saya. Jikakalian tidak percaya, kalian bisa ikut Cury menjelajahi lautan luas ini. Nanti dia akan mengajari kalian bagaimana mencari makanan di sini. Ingat teman-teman hiu kolam, Tsunami telah memaksa kalian harus bisa menghidupi diri sendiri.”
“Lho, bukankah kita akan kembali ke kolam?” tanya seekor hiu berbadan gemuk.
“Murid-muridku sudah menyelidiki keadaan kolam. Ternyata kolam sudah porak poranda. Jeruji-jeruji besi hilang entah kemana. Tidak ada lagi batas antara kolam dengan lautan luas.” Ujar Hiu Mentor.
“Lalu, di mana kita bisa menetap?” Seekor hiu lainnya bertanya. Wajahnya tampak kebingungan.
“Tentu saja di lautan ini. Masak kalian harus hidup di darat!” seekor hiu lautan nyeletuk, ia tampak kesal dengan hiu kolam yang pencemas itu.
“Hus, kamu jangan kasar, wajar dia bertanya demikian. Ia sejak lahir sudah berada di kolam yang nyaman dan penuh dengan makanan. Jadi, di saat menghadapi keadaan seperti ini, dia jadi ketakutan.” Sergah Hiu Mentor.
“Sudah, kamu jangan cemas. Nanti aku akan mengajakmu berburu makanan. Di sini banyak makanan yang bisa kamu lahap, jenisnya beragam, tidak seperti saat kita berada di kolam, makanannya itu-itu saja.” Sekarang Cury mulai berbicara.
Ayah Curi dan kelompok hiu kolam tidak memberi respon lagi. Mereka mulai mengerti kalau apa yang dikatakan putera mereka benar. Hiu-hiu yang lain pun demikian. Mereka sudah tidak punya pilihan lagi. Kembali ke kolam merupakan pekerjaan sia-sia, sebab kolam sudah menyatu dengan lautan luas.  Kini mereka harus belajar dari awal, berlajar bagaimana mencari makanan untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Tsunami telah menghancurkan Pulau Dua Ribu. Hampir semua kolam ikan, pusat rekreasi, pusat permainan dan resort-resort yang ada di sekitar pantai habis tergulung ombak. Luapan air laut yang menjulang tinggi membuat apa yang ada di pulau itu lenyap tersapu ombak. Pak Harno pemilik pulau itu untuk sementara menutup pulaunya. Kini bersama para tenaga ahlinya di bidang perumahan, mereka tengah merancang tempat rekreasi yang tahan terhadap serangan tsunami. Untuk sementara tepian laut tempat ikan-ikan hiu itu dipelihara, ditanami pohon-pohon bakau sebagai penangkal serangan ombak yang tajam dan ganas.

Pelatihan untuk Hiu Kolam
Hiu-hiu kolam yang terpisah dari sanak saudara dan orangtua mereka, akhirnya bisa ditemukan oleh para hiu lautan binaan Hiu Mentor. Dibantu hiu lautan dan Cury, mereka mengajari hiu-hiu kolam bagaimana caranya agar bisa menghidupi diri sendiri. Mereka diajari berburu mangsa, menyelusuri tiap sudut lautan luas, dan menghindar serta menyelamatkan diri jika musuh menyerang.
“Di lautan, musuh yang paling ditakuti adalah manusia.” Tutur Hiu Mentor usai mereka mencari makanan untuk hari itu.
“Mengapa manusia?” tanya Cute.
“Manusia lebih cerdik dari binatang apapun yang ada di dunia ini. Melalui akalnya dia bisa membinasakan seluruh penghuni lautan. Dia bisa menciptakan bom beracun di dasar laut. Jika bom itu meledak, maka kita-kita para ikan yang menghirupnya akan lemas lalu mati. Tatkala kita sudah tak berdaya, di situlah mereka akan mengambil tubuh kita, segala yang ada di badan kita akan mereka manfaatkan untuk obat-obatan dan makanan. Manusia bisa menciptakan kapal selam untuk menangkap ikan yang canggih.” Jelas Hiu Mentor.
“Apakah kita tidak bisa melawa manusia?” tanya Cute.
“Pada beberapa kesempatan, kita bisa melawannya. Namun, di kesempatan lain, dia akan balik menyerang dan menghancurkan kita dengan teknologi yang mereka Harnokan.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari serangan manusia? “
“Di situlah pentingnya kreativitas dan inovasi. Kita bersama-sama harus memikirkan jalan keluarnya agar tidak diserang manusia. Agar seluruh tubuh kitatidak disayat-sayat oleh manusia.” Jelas Hiu Mentor.
“Hm…apa, ya?” Ayah Cury mengernyitkan kening.
“Kita bersembunyi saja di dalam kapal karam ini. Kita jangan menunjukkan wajah jika ada manusia menyelam di sekitar sini.” Tambah isterinya polos.
Cury tertawa mendengar ucapan ibunya. Hiu Mentor memperingatinya agar ia tidak kurangajar terhadap orangtua. “Jangan anggap sepele pendapat Ibumu. Kita harus menerima semua pendapat yang masuk dari para hiu. Dari pendapat-pendapat itu akan muncul pendapat yang brilyan. Di situ akan membuat wawasan kita makin bertambah!”
Cury dan Cute saling pandang. Hiu Mentor tahu apa yang dirasakan kedua hiu muda ini.
“Ajarilah para hiu kolam mencari makan. Mereka harus bisa menghidupi diri sendiri. Di lautan luas ini, kita tidak bisa lagi hidup bermanja-manja, menunggu ada yang memberi kita makan. Di sini tak seekor ikan pun akan  berbaik hati pada kita. Mereka juga sibuk dengan diri mereka sendiri. Jadi belajar dan berinovasilah!” ujar Hiu Mentor.
Cute menyimak baik-baik ucapan Hiu Mentor. Perlahan-lahan ia mulai belajar menjelajahi lautan luas bersama Cury. Awalnya ia berani berenang seratus meter dari tempat berkumpulnya para hiu lautan, kemudian dua ratus meter, seterusnya tiga ratus meter, dan begitu terus, hingga akhirnya dia berani berenang sendiri tanpa ditemani Cury lagi. Bahkan terkadang Cute jarang pulang ke kelompok hiu lautan. Menurut penuturannya, ia memiliki teman baru, para hiu yang tinggal di laut selatan.
“Ternyata mereka baik-baik. Beberapa ada yang mengajari aku mencari makanan di tempat mereka. Besok, mereka akan mengajak aku bertemu dengan seekor ikan lumba-lumba yang bernama Jipi, dia dan temannya akan mengajak aku berenang di permukaan laut.”
“Apa? Berenang di permukaan laut? Duh, jangan lakukan itu anakku. Nanti kamu akan diburu manusia.” Ibu Cure tampak cemas.
“Dia akan belajar bagaimana menyelamatkan diri. Manusia tidak semudah itu akan menangkapnya, Cute pasti akan lebih cepat dari manusia. Ibu tidak usah cemas, percayalah dengan memberinya kebebasan untuk menjelajahi lautan dan permukaannya, wawasannya akan bertambah. Dia akan menjadi hiu yang tangguh menghadapi bahaya yang mengintai,” ujar Hiu Mentor.
Ibu Cute dan ayahnya akhirnya harus rela melepaskan anak mereka bermain-main di atas samudra bersama hiu-hiu lainnnya. Cury tidak turut bergabung dengan Cute, ia membebaskan sahabatnya untuk mencari pengalaman baru. Cury tahu kalau Cute sudah memperoleh kembali rasa percaya dirinya.
Perlahan namun pasti, hiu-hiu kolam mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. Kini, tidak ada lagi jam-jam penantian makan pagi, siang ataupun malam yang  diberikan para pegawai Pak Harno. Tidak ada lagi daging mentah merah dengan darah segar yang membangkitkan selera. Mereka harus berjuang untuk hidup. Hiu-Hiu kolam itu mulai terbiasa dengan keadaan sekitar. Mereka memang belum seberani Cury maupun Cute. Dua hiu pemberani itu belum bisa tertandingi.
Mungkin karena sejak bayi mereka terbiasa hidup di dalam kolam di tepian pantai, hiu-hiu kolam ini lebih lamban dari hiu lautan. Jika hiu lautan berhasil memperoleh mangsa ikan-ikan yang besar-besar, hiu kolam hanya memperoleh ikan-ikan kecil yang berenang di celah-celah batu karang. Karena perolehan makanan yang kurang inilah, tak jarang hiu kolam kerap mengeluh kelaparan. Setiap saat, jika sudah lapar, hiu-hiu kolam dewasa maupun yang sudah tua terus menggerutu. Mereka kembali mengenang masa-masa saat mereka hidup senang.
“Andai saja tsunami tidak datang, sampai saat ini kita masih berada di kolam dan tidak pernah kekurangan makanan.” Keluh seekor hiu yang sudah mulai tua.
“Iya, tadi aku sudah berenang hampir mendekati permukaan laut, tapi yang kuperoleh hanya ikan-ikan kecil yang bisa terbang. Saat kumakan tubuh mereka, tak ada sedikit dagingpun yang menempel di sana, tubuh mereka hanya tulang belulang. Jika setiap hari aku makan seperti itu, lama-kelamaan aku bisa mati kekurangan gizi.”  Tambah rekannya.
Hiu Mentor mendengar semua keluhan hiu kolam. Dengan bijak ia berkata, “Mengingat kembali masa lalu yang sudah berlalu adalah suatu kesia-siaan. Masa lalu tidak akan terluang kembali, yang harus kita hadapai adalah masa yang akan datang. Mengeluh dan terus mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah...” Hiu Mentor menegaskan kepada para hiu kolam. Ia kemudian melanjutkan:  
 “Ingat Ashleigh Brilliant pernah berkata Nothing we can do can change the past, but everything we do changes the future.’. Jadi sekarang belajarlah pada hiu lautan bagaimana caranya mereka bisa memperoleh  makanan lebih banyak dan lebih besar. Aku sudah berkali-kali mengingatkan kalian, di sini jika kalian tidak mau berusaha, maka kalian akan mati sia-sia. Semua hiu lautan mampu hidup mandiri. Lihat saja, sejak anak-anak hiu dilahirkan, mereka sudah dilatih untuk mencari makan dan menghidupi diri mereka sendiri. Jiwa entrepreneurs mereka sudah diasah sejak kecil. Nah, meski kalian baru beradaptasi di lingkungan lautan luas, kalian kan sama dengan kami, kalian punya naluri yang juga sama, sekarang tinggal semangat, kreativitas dan inovasi dalam diri kalianlah yang harus dibangun. Ayo, mulailah melakukan sesuatu, jangan menggerutu terus!” 
Para Hiu kolam yang mendengarkan ucapan Hiu Mentor diam beberapa saat.
“Kami kan sejak lahir sudah berada di kolam, kehidupan kami berputar di situ-situ saja, kami sudah dididik untuk menerima apa saja yang diberikan orang yang memelihara kami. Lalu bagaimana kami bisa seperti hiu lautan luas?” tanya seekor hiu yang masih remaja.
“Memang ada perbedaan antara kalian dengan hiu lautan luas. Jika mereka telah mengenal lautan selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, proses pembelajaran diri mereka jauh lebih kaya. Jiwa entrepreneurs dalam diri mereka juga sudah membudaya, selain itu, sejak kecil hiu lautan sudah memiliki pola pikir bahwa di laut luaslah mereka harus berusaha dan membentuk diri menjadi seekor hiu perkasa yang pantang menyerah, mereka sudah tahu tujuan hidup apa yang harus mereka capai…”
“Nah itulah, kami kan tidak seperti mereka.” Potong Jackal.
“Nanti dulu, dengarkan dulu apa yang kumaksud,” Hiu Mentor memperingatkan hiu yang keras kepala ini. “Kalian jangan takut dan cemas, ada tiga hal yang dapat terjadi dalam diri seekor hiu yang akan menentukan apakah ia akan memiliki hati entrepreneur yang besar. Pertama lahir, kedua lingkungan, dan ketiga latihan. Seekor hiu yang lahir dari sebuah keluarga hiu lautan akan terbiasa dengan dunia entrepreneur, hati entrepreneurnya tumbuh di dalam keluarga, mereka kemungkinan besar bisa menjadi seekor entrepreneur yang baik karena sudah terlatih secara tidak sengaja. Kedua adalah faktor lingkungan, mungkin hiu tidak lahir di lautan namun ketika bertumbuh besar bergaul dengan hiu lautan maka hiu inipun bisa memiliki hati entrepreneur yang besar. Ketiga, hiu dari kolam, bukan hiu lautan tapi memiliki smangat, keinginan yang kuat dan percaya diri bisa menjadi hiu lautan, Hiu seperti ini siap untuk dilatih menjadi hiu lautan, mereka memiliki benih hati entrepreneur yang besar. Cury adalah contohnya. Namun untuk itu harus ada pelatihan dan harus ada mentor yang membantunya. Kalian sudah menjadi hiu yang ketiga, selama ini kalian sudah memperoleh pelatihan dari anak buahku, tinggal bagaimana semangat kalian, mau tidak melaksanakannnya. Sebab untuk menjadi hiu lautan yang berhasil harus mampu menciptakan peluang baru, bukan sekedar mencari peluang, lalu mampu ber-inovasi dan selanjutnya berani mengambil resiko yang terukur, apakah itu resiko gagal, malu dan sebagainya. Dalam pengambilan resiko harus disertai dengan perhitungan yang matang, jadi bukan asal berani saja. Jika kalian masuk dalam dunia lautan luas ini tanpa perhitungan yang matang, maka malapetaka akan menghampiri kalian.”
“Seperti apa perhitungan yang matang itu Hiu Mentor?” Jackal dan para hiu lainnya mulai serius mendengarkan.
“Contohnya seperti pelatihan-pelatihan yang diberikan anak buahku. Kalian kan sudah diajarkan bagaimana mencari makanan, bagaimana berenang ke lautan yang lebih luas, bagaimana berjaga-jaga jika dalam keadaan bahaya, bagaimana bertahan dari serangan musuh, bagaimana menyelamatkan diri, dan banyak lagi. Jika semua itu tidak kalian praktekkan, pada saat kalian berada di lautan luas, kalian akan menjadi hiu yang bodoh, yang memberikan tubuh kalian untuk dimangsa. Kalian akan hidup dengan sia-sia…”
“Ooo…jadi kita berenang bukan asal berenang saja ya, Mentor?” tanya seekor hiu yang masih remaja dengan polos.
“Tentu saja. Lautan luas itu penuh bahaya. Jika kalian tidak memiliki keahlian, tidak jeli dan tidak mau belajar, seperti yang sudah kukatakan tadi, kalian akan menjadi santapan empuk ikan-ikan lain yang lebih ganas.”
Para hiu merenungi ucapan Hiu Mentor. Cury dan Cute yang baru saja kembali dari laut dangkal, melaporkan hasil pengintaian mereka.
“Gawat, manuasia-manusia penyelam sudah tahu keberadaan kita. Mereka akan memangsa kita untuk dijadikan ikan kaleng, bahan kosmetik dan obat kuat. Kita harus menyingkir dari sini!”
“Iya benar, mereka membawa perlengkapan teknologi yang canggih, ada alat untuk mendeteksi keberadaan kita segala!” tambah Cute.
“Wah, apa yang harus kita lakukan?” tanya ayah Cury.
“Aku tak mau mati sia-sia di sini. Coba kalau kita masih ada di kolam, pegawai-pegawai Pak Harno akan melindungi kita. Mereka akan menyuruh orang-orang itu menjauh dari tempat tinggal kita, hu…hu…hu…” seekor hiu remaja yang cengeng mulai menangis.
“Aku tak kuat berenang jauh-jauh, tubuhku sudah lemah,” keluh seekor hiu tua yang gemuk dengan hidung megap-megap, tampaknya saking kegendutan ia susah untuk bernafas.
Semua hiu menatap Hiu Mentor, mereka menggantungkan harapan pada sang master lautan luas ini.
“Hm…benar seperti apa yang kalian lihat?”
“Benar Mentor, mereka juga membawa panah beracun, senjata untuk menembak, bahan peledak yang bisa membuat kita mabuk, kail dan jaring!” tegas Cury.
Hiu Mentor dia beberapa saat. “Begini, malam ini kalian jangan keluar dari daerah ini. Makanlah apa yang kalian temukan di sini, jangan mengeluh dan jangan menggerutu. Aku, Cury dan beberapa hiu yang sudah terlatih, akan keluar menyelidiki semua kegiatan manusia. Jika dalam satu hari kami tidak kembali, itu artinya kami binasa di tangan manusia. Kalian harus siap-siap menyelamatkan diri kalian sendiri. Bila kami kembali, aku akan mengajak kalian untuk pergi meninggalkan tempat ini, mencari daerah baru yang lebih aman untuk kita tempati. Ingat pesanku, jangan pergi jauh dari tempat ini!”
Para hiu mengangguk patuh. Mereka melepas kepergian Hiu Mentor, Cury dan hiu-hiu perkasa dengan perasaan tak menentu. Ibu Cury menitikkan air mata, ia berharap sang putera, Hiu Mentor dan hiu-hiu lain yang pergi itu, kembali dengan selamat.
----------------------------------------------------------End Chapter 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar