Selasa, 05 Juni 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 17


Sekolah Kehidupan

Bagian 17: Puisi dari Tie

Pagi-pagi sekali baik Teki, Eti dan Mey sudah terkoneksi ke FB mereka masing-masing . Mereka ingin tahu kenapa Tie dan teman-temannya ingin membawa entrepreneurship menjadi milik BMI. Katanya karena Victoria Park, apa artinya ini semua? Pagi itu mereka menemukan puisi berikut ini:


Victoria Park 2012

Victoria Park Hong Kong di tahun 2012
Adalah ribuan  buruh migran Indonesia di negeri para majikan
Saling bertemu, saling bercanda dan saling menangis dengan bahasa ibu mereka...
Victoria Park adalah kampung kecil Indonesia 3250 km dari negeri sendiri
Tempat mereka seminggu sekali bisa jadi diri sendiri di negeri asing

Victoria Park adalah lambang keberanian perempuan Indonesia
Menantang luas samudera dan ketinggian awan
Untuk berjuang dan berkorban demi solusi ekonomi bagi keluarga
Walau harus menahan rindu setiap waktu......
Walau harus berteman sepi setiap hari............

Victoria Park adalah saksi bisu.....
Ribuan ibu Indonesia yang berpisah dengan para kekasih jiwa
Ribuan remaja putri Indonesia hidup tanpa masa remaja
Ribuan dan ribuan itu melawan dan meniadakan keinginan hati sendiri
Demi keluarga dan demi devisa...............................

Victoria Park adalah Indonesia yang terluka
Tidak sanggup menyediakan pekerjaan layak bagi anak bangsa di tanah sendiri
Victoria Park adalah Indonesia yang berduka
Suami-suami tanpa istri, bocah-bocah tanpa bunda ada jutaan di tanah air tercinta
Sampai kapan Ibu Pertiwi harus terus menangis...?

Sudah saatnya sekarang sejarah masa depan harus kita ubah.
Jangan biarkan kisah Victoria Park terus berlanjut.................................
Berikan Entrepreneurship yang mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas
Supaya mereka sanggup melukis kanvas kehidupan mereka sendiri
Supaya generasi berikut tidak perlu ke Victoria Park hanya demi sesuap nasi

Mari kita ciptakan bersama bahwa Victoria Park menjadi masa lalu
Dulu dan sekarang itu memang terjadi,....
Namun jangan sampai terjadi-terjadi lagi di masa depan..
Perpisahan suami dengan istri, perpisahan ibu dengan anak hanya untuk mengalahkan kemiskinan
Bukankah rakyat yang bahagia adalah rakyat yang sanggup jadi  pencipta kerja....?

Mari impikan bersama Victoria Park bukan hanya untuk perempuan Indonesia
Victoria Park adalah untuk keluarga Indonesia, seluruh keluarga ada disana
Yang datang mendarat di bandara Hong Kong dengan tujuan melancong atau berentrepreneur
Karena mereka sukses membangun diri di negeri sendiri
Karena entrepreneurship sudah masuk merasuk berbuah keberhasilan

Kiranya entrepreneurship menjadi milik sejatimu para sahabat mandiri.......................
Kiranya jiwamu terbakar membara oleh semangat itu setiap pagi...........
Kiranya pikiranmu dan tanganmu makin terampil mengejar cita-cita hatimu
Bergeraklah terus ke depan menginovasi diri para sahabat.........................
Tangan-tangan terbatas kami akan menghentar kalian semampu kami
Untuk masa depan kita semua keluarga besar Indonesia tercinta .........

Kiranya TUHAN Pemilik Masa Depan akan bersama kita di setiap langkah kita.

(Dari sahabat-sahabat setanah air yang mengasihi.......................)


----------------------------------SELESAI------------------------------------------

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 16


Sekolah Kehidupan

Bagian 16: Diskusi dengan Tie



Mey mendapat kabar dari keluarga bahwa adiknya masuk rumah sakit untuk dioperasi karena kecelakaan sepeda motor sehingga dalam pertemuan hari Minggu itu Mey buru-buru pulang ke rumah majikan untuk minta ijin pulang dan dibantu mendapatkan tiket ke Indonesia. Baik Teki maupun Eti merasa gelisah sehingga mereka mengirim sms esok hari nya pagi-pagi sekali.
“gmn adikmu, sudah di airportkah sekarang” demikian pesan dari Teki
“kuatkan ya Mey, sekarang sdh dmn” demikian pesan Eti
Tidak lama kemudian sebuah jawaban tiba
“tdk jadi brkt, penjelasan hari Minggu V-Park”

Baik Teki maupun Eti menjadi bingung namun juga merasa lega dan mereka kembali beraktivitas di tempat pekerjaan mereka sambil terus mencari peluang berinovasi. Dan ketika hari Minggu kembali tiba, mereka berkumpul lagi di Victoria Park.  
“Aku tidak jadi berangkat, bukan dilarang dan bukan juga tidak ada tiket...” Mey menarik nafas sejenak namun wajahnya teduh dan tenang.
“Mrs.Chen mempersilahkan aku menggunakan telepon keluarga mereka untuk menghubungi Indonesia kembali. Supaya aku bisa bicara dengan leluasa katanya....Aku dipandu oleh dia untuk bertanya dan berbicara dengan keluargaku, dokter yang merawat, adikku sendiri dan akhir pihak administrasi rumah sakit. Memang Mrs.Chen adalah ekskutif bisnis yang hebat dia tenang, rasional dan sistimatis dalam memecahkan masalah...”
“Lalu, lalu apa yang terjadi selanjutnya..?”Teki dan Eti seakan tidak sabar menunggu dan Mey kemudian melanjutkan.

“Akhirnya aku tahu alasan mereka minta aku datang sebenarnya masalah UUD sih Ujung-Ujungnya Duit. Tidak terlalu serius namun biaya operasi cukup mahal yah sekitar HKD 20.000...”
“Ops ...... sekitar 5 bulan gaji nih, wah berat juga ya.....” Teki yang hidup hemat demi nabung berpendapat.
“Waduh, memang jangan mau jadi orang miskin, kalau sakit dan masuk rumah sakit bisa langsung melarat....”Eti juga berpendapat.
Mey kemudian meneruskan cerita:”Dari kejadian inilah aku menemukan kebaikan dari keluarga Chen karena kemudian Mrs.Chen menawarkan kepada ku untuk menalangi dulu seluruh biaya lalu separuh biaya akan merupakan sumbangan dari keluarganya dan sisanya boleh aku cicil semauku....., aku lega, aku gembira dan Mrs.Chen hari itu juga melalui internet bangking mengatur agar uang bisa ditransfer dan operasi bisa dilakukan sesegera mungkin..., dan tentunya aku tidak perlu datang lagi..”

“Mengharukan... ternyata Mrs.Chen tidak seburuk yang kita sangka ya..”Eti berkomentar.
“Betul, betul,... dosa ya kita sempat omongin dia yang buruk-buruk..”Teki juga berkomentar.
Mey kemudian melanjutkan cerita:”Aku nangis menyaksikan respon Mrs.Chen yang simpatik dan aku terima kasih terima kasih sekali  kepada dia, dia kemudian memeluk aku dan mengatakan bahwa aku sudah berbuat baik ke keluarga Chen dan keluarga Chen tidak boleh melupakan kebaikan dari mereka yang sudah berbuat baik kepada mereka....................”

Matahari makin beranjak sore, ketiga sahabat masih bercengkrama seru ketika matahari hampir tenggelam mereka memtuskan mengakhiri diskusi dengan kembali melakukan refleksi terhadap semua pengalaman mereka. Mereka ingin mendapatkan mutiara pembelajaran seindah mungkin dan sebanyak mungkin.
“Hmmm kita sudah berbagi refleksi dan pengalaman diantara kita, aku jadi ingat Tie nih, barangkali dia ada di sekitar kita, kita ajak gabung ya berdiskusi bersama..” Teki mengambil inisiatif dan kemudian ia mengirim berita melalui sms mengajak Tie ikut bergabung.
“Sip dia sedang beredar di sekitar Victoria Park, akan bergabung 10 menit lagi...” Demikian Teki memberikan laporan.

Tie datang tidak lama kemudian, ia bangga melihat dan mendengar cerita dari Grup 3 E ini. Cerita-cerita yang penuh inspirasi, inovasi dan membangkitkan semangat. Ia kemudian berkata:
“Yuk kita periksa dan diskusikan pendapat teman-teman kita tentang menjadi intrapreneur di rumah majikan..mari kita lihat posting mereka”Tie mengajak mereka berdiskusi serius lagi.
“Setuju, setuju, setuju” Ketiga sahabat ini memberikan respon dengan cepat.

“Nah ini dia dari mbak Jingga Flamboyan ia berpendapat bahwa intrpreneur itu selalu berpikir ke depan, maju, semangat dan punya keinginan kuat untuk berubah dan merubah masa depan lebih cemerlang. Hmm bagaimana pendapatmu Teki..? Tie membuka diskusi

“Iya sih, kami bertiga melakukan inisiatif-inisiatif baru dan berusaha berinovasi di tempat kerja karena kami memiliki cita-cita ingin mengubah masa depan...”Demikian Teki menjelaskan

“Bagus, sekarang aku lihat pendapat mbak Fluent Rivani  yang mengatakan bahwa intrapreneur atau orang kerja dengan jiwa entrepreneur itu kreatif, otaknya penuh ide-ide yang unik memiliki kata kata dan ucapan yang selalu bersemangat dan punya aura positif. Melakukan kegiatan kegiatan positif yang menambah ilmu dan memperluas wawasan serta berani melakukan hal-hal yang baru. Nah bagaimana Eti pendapatmu...?” Tie juga bertanya ke Eti.

“Setuju sekali, bahasa kami sudah beda Tie, kami sudah ogah gossiping and go shopping lho, sekarang lebih senang belajar, diskusi dan lakukan yang kreatif. Buktinya Mey sekarang sudah seperti seorang guru saja wawasannya, jangan-jangan banyak guru yang kalah wawasan oleh beliau...” Eti menjawab dengan bersemangat.

“Sip, sip kalian memang pembelajar entrepreneurship yang hebat. Sekarang aku akan tunjukkan tulisan dari mbak Nina Riyadi menurut dia  intrapreneur bisa menjadikan masalah menjadi peluang, melakukan kreatifitas & inovasi untuk membuat pelanggan (majikan) tidak bisa bilang tidak, berusaha bekerja dengan cinta dari hati dan dapat menunjukan sikap ramah & gembira. Seorang Entrepreneur mulai dari diri sendiri lalu lingkungan kerja dan baru yang lainnya,... Hayo Mey bagaimana pendapatmu..”Sekarang Tie bertanya ke Mey.

“Yah ngga usah ditanya lagi deh. Itu lho Teki sudah mengubah masalah popo Wong jadi dompet ... he... he ... dan Eti juga menciptakan gagasan yang Mr.Lee tidak bisa bilang tidak bahkan sampai garuk-garuk kepala dan keluar HKD 500.. ha.. ha” Mey menjawab dengan canda.

Tie terseyum gembira melihat optimisme di wajah 3 BMI ini dan mendengar langsung cerita-cerita kisah nyata perjuangan dan keberhasilan mereka ber inovasi. Kemudian mereka semua secara bersama-sama membaca kalimat-kalimat dari teman-teman lain dari komunitas Mandiri Sahabatku yang juga memberikan inspirasi.


Sarang Chinta: Bertindak cepat dan tepat, bermimpi lebih tinggi dan merealisasikan impian nya menjadi kenyataan.. ruang dan waktu bukan penghalang...dan NEVER GIVE UP


Anna Blitar Mudah menemukan peluang dan  tidak mudah putus asa. Tidak takut menghadapi kegagalan

Cindy Ayu; Mempunyai jiwa yg kuat

Rose Rosida; Berjiwa pemenang berhasil memenangkan hati majikan sebagai pelanggan yg harus dilayani dengan baik. Sehingga majikan puas dengan kinerja dan tidak sanggup bilang tidak.

Amy Fadhilah Fadhilah Banyak mengeluarkan ide-ide baru, kreatif, berinovasi. tak mudah putus asa.

Neng Erna: Tidak melakukan hal sama berulang ulang bila ingin hasil yang berbeda.

Ayen Neya: Selalu berfikir dan bertindak dengan kreatif dan terus berinovasi untuk majikan.

Rizki Ramadhani : Menghargai WAKTU

Jocelyn Savanna : Berani melakukan perubahan baik pola pikir juga karakter. Bersikap jujur, disiplin dan tanggung jawab. Waktu luang digunakan untuk belajar

Listi Nia: Tidak fokus pada masalah tapi pada solusi dan berani menghadapi kegagalan.


“Wah hebat-hebat ya, pendapat teman-teman kalian. Aku membayangkan setiap kali bertemu dengan kalian auranya akan sangat positif ya. Aku dengar lho bahwa pak Riza Senior Vice President Bank Mandiri yang berkali-kali datang menengok kalian di Hong Kong mengatakan bahwa setiap kali ke Hong Kong serasa mendapat enersi yang positif, itu membuat dia selalu ingin kembali ke Hong Kong bertemu kalian semua. Yup kalian pertahankan ya suasana belajar yang saling memotivasi ini dengan terus berinovasi...”Tie mencoba membuat kesimpulan.
“Setuju, sip sip, sekarang bukan saatnya NATO lagi, No Action Talk Only...tapi selalu bergerak dan tidak takut jadi yang terdepan” Eti juga memberi semangat.
“Bank Mandiri, terdepan, terpercaya, tumbuh bersama anda yes.. yes.. yes... ha.. ha... ha...”Tiga sahabat ini bernostalgia suasana pelatihan Mandiri Sahabatku dengan penuh tawa.  

“Aku harap kalian semua sekarang sudah mengalami sebuah Sekolah Kehidupan yang menyenangkan sarat dengan makna dan berdampak terhadap diri maupun sesama, aku jadi ingin tahu sekarang sejauh mana kalian bisa membedakan Sekolah Kehidupan dengan sekolah biasa yang seperti kalian biasa kita lihat..., bagaimana pendapatmu Teki..?” Sekarang tampaknya Tie ingin mengetahui lebih jauh kualitas pembelajaran mereka.
“Hmm, kalau sekolah biasa ada jadwalnya yang tetap tapi Sekolah Kehidupan tidak berjadwal kapan saja kita bisa belajar, kalau sekolah biasa ada lokasinya dan gedungnya yang tetap tapi Sekolah Kehidupan dapat terjadi dimana saja, kalau sekolah biasa ada guru-guru yang ditunjuk namun kalau Sekolah Kehidupan siapa saja bisa jadi guru......daaaaan ada satu yang sangat penting yaitu di sekolah biasa kita mengeluarkan biaya tapi di Sekolah Kehidupan kita malah bisa dapat uang.... betulkan Eti dan Mey,... ha...ha...ha” Demikian Teki yang suka nabung dan berhemat berpendapat. Tie yang mendengar dengan seksama hanya manggut-manggut dengan hati bangga.

Sekarang teh Eti yang dulu biasanya hanya banyak diam dan seyum-seyum saja mulai berpendapat:
“Kalau untuk aku perbedaan terbesar terletak pada siapa yang jadi pengelola kegiatan belajar. Di sekolah biasa guru memegang peran besar dalam menentukan apa yang dipelajari dan bagaimana kita belajar tapi di Sekolah Kehidupan kita sendiri yang berinisiatif dan mengatur pembelajaran kita. Kesimpulannya..... orang yang tak pernah melakukan inisiatif baru, mencoba berinovasi atau melakukan perubahan dalam hidupnya adalah mereka yang tidak pernah jadi murid Sekolah Kehidupan...”
“Bagus, bagus, sangat menarik....” Teki memberi semangat

Mey yang sembari menyimak namun terus berpikir kemudian membagikan perenungannya:”Sekolah biasa ijazahnya adalah kertas atau piagam yang bisa saja hilang atau terbakar dan belum tentu bisa menjamin masa depan kita tapi Sekolah Kehidupan ijazahnya ada dalam hati kita, ada dalam batin kita, berupa mutiara-mutiara kehidupan yang sangat berharga. Ijazah Sekolah Kehidupan adalah kumpulan dari pengalaman kehidupan yang kaya makna karena dengan sengaja kita mewarnai  kehidupan dengan inisiatif, inovasi dan intropeksi atau refleksi terus menerus. Ijazah Sekolah Kehidupan adalah ketika kita dapat membuktikan kepada diri sendiri, kepada keluarga dan kepada masyarakat bahwa bisa lulus dari STM  atau Sanggup Tidak Miskin, lulus dari SMU atau Sanggup Mencari Uang dan bila semakin tinggi dapat jadi lulusan PT atau punya Perseroan Terbatas...”
“Luar biasa, aku sangat bergembira dan aku percaya kalau kita teruskan waktu diskusi kita maka akan banyak lagi mutiara kehidupan yang kalian temukan sepanjang perjalanan menempuh jalan entrepreneur ini...”Demikian Tie berkata sambil tersenyum bangga kepada seluruh anggota Grup 3 E.

Malam kemudian menyergap Victoria Park perlahan namun pasti ketiga sahabat bersama Tie beranjak pulang ke rumah masing-masing. Sebelum mereka akhirnya berpisah tiba-tiba Mey mengajukan pertanyaan mengejutkan kepada Tie:”Ngomong-ngomong apa sih yang membuatmu selalu ingin menginspirasi, memotivasi dan melatih kami untuk sanggup jadi entrepreneur Tie...? Tie menghentikan langkah, memandang jauh ke depan menyapu seluruh Victoria Park, kemudian menundukkan kepalanya ke bawah seakan berpikir sangat dalam kemudian dengan kalimat perlahan ia mengatakan:
“Akan cukup panjang kalau aku ceritakan, namun secara singkat Victoria Park lah yang membuat aku dan teman-temanku ingin berada bersama kalian membangun masa depan kalian...”
“Koq Victoria Park...?”Teki bertanya.
“Ada apa dengan taman ini...?” Eti juga bertanya
“Besok aku akan inbox sebuah puisi ke masing-masing kalian, disana kalian akan menemukan alasan-alasannya......”Demikian Tie menjawab pertanyaaan mereka.

(Bersambung) – Besok akan menjadi bagian akhir dari cerita Sekolah Kehidupan untuk tema INTRAPRENEURSHIP 

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 15


Sekolah Kehidupan

Bagian 15: Intrapreneur Sejati (Seseorang dengan jiwa entrepreneur tapi bekerja kepada orang lain)



Teki, Mey dan Eti mendiskusikan sebuah artikel Langkah Perempuan di 3 Jaman yang pernah muncul di majalah Gatra. Kini kembali mereka membicarakan tindakan-tindakan inovatif yang mereka lakukan di rumah majikan. Cerita Mey ternyata menginspirasi kedua sahabatnya.
“Wah seru sekali ceritamu Mey......” Teki memberikan komentar setealh mendengar cerita bagaimana Mey menemukan keberbakatan Grace dan menyampaikan kepada ibunya Mrs.Chen. Tindakan Mey merupakan sebuah ekspresi semangat dan jiwa entrepreneur yang berkobar di dalam hati Mey.
“Mey apakah kamu diberi uang sebagai hadiah Mey dari Mrs.Chen...?” Eti bertanya kepada Mey karena ia sendiri mendapat bonus 500 HKD dari Mr.Lee.
“Atau mendapat dompet mahal seperti yang aku dapat dari popo Wong..?” Teki juga bertanya.
Mey hanya menggelengkan kepala:”Tidak ada hadiah seperti itu...”
“Payah juga boss mu itu Mey, betul kan Eti..?” Demikian Teki berpendapat.
“Pelit banget sih........boss mu” Eti juga ikut mengeluh
“Mey kasih dia sinyal dong, pasang muka cemberut berhari-hari, usulanmu kepada Mrs.Chen kan penting sekali dan sangat berharga untuk keluarga mereka, masa tidak ada tanda terima kasihnya...” Teki sekarang mulai memanas.
“Iya Mey, kalau terjadi padaku maka aku akan kapok perhatikan mereka..”Eti juga ikut makin panas.
Mey masih menggeleng kepala dan dengan tetap terseyum ia berkata:
“Ingat aku pernah katakan bahwa aku ingin bekerja dengan hands, head dan heart atau dengan otot, otak dan hati. Otakku barangkali berpikir untuk menuntut balas jasa dari Mrs.Chen tapi suara hatiku tidak begitu. ...”
“Koq gitu Mey, lalu apa...?Teki sekarang bertanya.
Mey masih dengan tenang dan teduh memberikan jawaban.
“Aku bekerja untuk mendapatkan uang ya itu pasti sama seperti yang lain namun hatiku mengatakan aku ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar uang itu. Aku ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bernilai setiap hari dan pengalaman yang bernilai hanya aku dapatkan bila aku bekerja dengan sebaik mungkin sambil melakukan inovasi. Selain itu hatiku juga mengatakan bahwa dengan bekerja kita dapat melayani sesama, kerja adalah juga kesempatan berbuat baik kepada sesama. Aku bahagia koq dapat memberikan sesuatu yang bernilai untuk masa depan Grace...”
“Tidak merasa rugi ya Mey....?” Eti sekarang bertanya menguji ketulusan Mey.
“Tidak, tidak aku tidak merasa rugi, bahkan aku merasa rugi kalau hanya gara-gara tidak mendapat hadiah aku pasang tampang murung berhari-hari. Jam dan hari yang aku lalui dengan hati yang murung tidak memberikan keuntungan apa-apa kepadaku. Ya kalau majikan menangkap sinyal itu, kalau mereka tidak menyadari juga bagaiamana? Apa aku harus pasang muka bete setiap hari sampai akhir kontrak....? Jelas aku yang akan dirugikan karena tidak bisa menikmati hari-hari kerja dan tidak bisa berkreasi karena hati selalu galau. Waktu yang hilang tak pernah kembali...” Mey menjelaskan dengan penuh kedewasaan.

“Aku harus belajar dari kebaikan hatimu Mey, kamu tulus dan baik hati, hati mu pasti indah Mey...”Sekarang Teki berkomentar dengan kagum.
“Berbahagialah pria yang menjadi kekasihmu Mey...” Eti juga ikut kagum.

“Eh Mey memangnya kamu sudah ada kekasih...?”Teki sekarang bertanya.
“Itu dulu, .....sekarang tidak lagi...”Mey menjawab sambil terseyum.
“Memangnya kenapa, broken heart nih ye...” Teki menggoda
“Ya begitulah, jauh di mata jauh di hati, tetapi aku tetap bahagia koq......” Mey berkata dengan tetap terseyum dan kemudian ia balik bertanya kepada Teki:
“Kamu sendiri bagaimana Teki...?”
“Mirip denganmu hanya lebih parah, aku single parent..”Teki menjawab dengan sedikit sedih.
“Dan kau Eti....?” Sekarang Mey bertanya ke Eti.
“Hmm, patah hati sebelum pacaran..” Eti menjawab.
“Ha.. ha ... ha.., ” Mereka tertawa bersama   
“Jomblo sejati teh Eti...”Mey sekarang mulai bercanda.

“Hmm merasa sepi tidak ada kekasih...? Teki membuka percakapan kembali.
“Ya kadang-kadang... tapi aku sudah memutuskan ada atau tidak ada kekasih aku mau jadi orang sukses yang bahagia” Mey menjawab.
“Mey ucapanmu itu membuat aku jadi ingat sebuah kalimat yang pernah diposting di FB Mandiri Sahabatku, aku periksa sebentar ya...., nah  nah ini kalimatnya..”Eti berkata dan menunjukkan HP nya kepada teman-temannya dan tertulis disana.
---------------------------------------------------
Don’t wait for someone to bring you flowers. Plant your own garden and decorate your own soul (Jangan menunggu seseorang datang membawa seikat bunga untukmu tapi perindahlah taman hidup kita dengan bunga yang kita tanam sendiri)
-----------------------------------------------------

“Ya ya aku ingat tuh Teki…sebab untuk dunia bisnis pepatah itu bisa berbunyi jangan hanya menunggu pembeli datang ke toko kita tapi percantik dan perbaiki toko kita sehingga begitu indah dan membuat orang datang ke toko kita….”Eti berbagi pendapat dengan teman-temannya.
“Kalau menurut ku bisa juga diartikan juga jangan bengong tiap hari memusingkan masa depan tapi belajar dan bertindaklah setiap hari sehingga dari waktu ke waktu masa depan akan makin jelas dan makin mantap..” Sekarang Mey juga urun rembug.
“Sip sip sip, sekarang giliranku nih…”Teki tidak mau ketinggalan.
“Jangan hanya menunggu seseorang datang memberi rejeki tapi berinovasilah setiap hari sehingga rejeki merasa pantas datang ke pelukan anda…”
“Hebat..hebat…, satu lagi satu lagi aku ingat posting pak Antonius tentang hal ini yaitu nasehatnya kepada Iona anak perempuannya, ini dia postingnya…”Demikian Eti juga ikut berkata dengan semangat.

-------------------------------------------------------------------------
Jangan menanti-nanti seorang pria datang meminangmu tapi inovasikan dan entrepreneurkan dirimu sendiri sedemikian rupa sehingga hanya pria bodoh yang tidak mau kepadamu.
--------------------------------------------------------------------------

“Ha... ha... ha, lucu juga ya...” Mereka bertiga tertawa terpingkal.
“Rupanya banyak pria bodoh di sekitar kita, sombong ni ye...”Teki bercanda membuat suasana makin ceria.
“Jadi bisa aku simpulkan Jomblo + Entrepreneurship = Masa Depan Cerah, biar jomblo tetap bahagia dan sukses asal bersama entreprenurship, setuju teman-teman...?” Eti yang radar cintanya sering blank menyimpulkan dengan ringan dan riang. 

Mereka masih tergelak penuh tawa namun tiba-tiba telepon berdering di HP Mey...kring...kring...kring
“Ops.... ini dari Indonesia, ada apa ya....”Mey segera mengangkat telepon
“Halo-halo...... Apa! ...Yang betul!...Dimana, kapan bagaimana!!  Aduh kasihan sekali adikku harus operasi....Jadi bagaimana? Aku harus pulang....? Sungguh...? Kapan....? Sekarang? Harus sekarang...? Demikian percakapan-percakapan yang Teki dan Eti dengar dan tak lama kemudia telepon ditutup dan Mey menangis terisak-isak.
“Aku baru membelikan sebuah motor untuk adik, sekarang kecelakaan dan harus dioperasi.... aku nyesal... aku nyesal membelikan motor. Sekarang mereka minta aku pulang segera, sekarang bukan waktu cuti dan juga bagaimana mendapatkan  tiket di hari Minggu...?
Teki dan Eti berusaha menghibur:”Mey yuk kami bantu sebisanya, sekarang mari pulang dengan segera dan minta Mrs.Chen membantumu mendapatkan tiket, dia kan orang penting di perusahaan penerbangan...”
“Betul-betul Mey, Mr.Chen pasti membantumu mendapatkan tiket itu, kau kan sudah berjasa kepada dia...?

(Bersambung)

Pertanyaan untuk refleksi: Apa yang aku pelajari dari cerita Sekolah Kehidupan pada bagian ini..?

Sabtu, 02 Juni 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 14


Sekolah Kehidupan

Bagian 14: Perempuan-Perempuan Perkasa




Victoria Park masih ramai di hari Minggu itu, obrolan, canda dan celoteh BMI masih seru terdengar disana sini. Ada yang berwajah ceria ada yang berwajah gundah ada juga yang sedang kecewa. Semua ragam ungkapan emosi ada di Victoria Park setiap hari Minggu.  Tiga sahabat Teki, Eti dan Mey masih bercengkrama menceritakan pengalaman mereka berentrepreneur di rumah majikan. Bukan berarti berdagang dari rumah majikan tapi melaksanakan semangat inovasi dan berprestasi di tempat kerja. Mey yang banyak membaca dan mengumpulkan informasi berbagi inspirasi kepada teman-temannya:
“Teki, Eti aku mendapat majalah Gatra yang sudah lama sekali, eh didalamnya ada kisah tentang 3 entrepreneur perempuan yuk kita baca sama-sama..”
---------------------------------------------------------------------------------------------

Langkah Perempuan di Tiga Zaman

MARTHA Tilaar di Kebumen, Retno Iswari di Jakarta, Gayatri Rawit di Solo. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Orangtua mereka juga tidak saling mengenal. Tapi, lihatlah masa lalu mereka yang unik, seakan-akan ada benang merah yang menarik ketiganya pada satu kata: sukses.

Di masa kanak-kanak, Martha Tilaar diajari ibunya berjualan gelang jali-jali yang dibuat sendiri. Retno Iswari menangis malu karena diperintah berdagang hiasan dinding. Gayatri Rawit senang saja disuruh berjualan permen di koperasi sekolah dasar.

Memang, bunda ketiga perempuan itu sama-sama memiliki jiwa entrepreneur, dan mendorong anak-anaknya untuk belajar mencari uang sendiri. Adapun ayah mereka sama-sama guru pula --kecuali ayah Gayatri seorang wartawan dan penulis, sementara ibunya seorang guru SD.

Dari atmosfer kehidupan keluarga yang seperti itulah, sosok Martha Tilaar, Retno Iswari, dan Gayatri Rawit tumbuh dan menjadi wanita sukses. Mereka juga sama-sama dibentuk oleh suatu iklim pendidikan yang mengutamakan kreativitas, kemandirian, dan mendapatkan perhatian penuh dari orangtua. Ketiga perempuan itu adalah produk dari perpaduan kekuatan intelektual yang diturunkan ayah-ayah mereka, dengan jiwa kewirausahaan dari para ibu. Ketiga ibu merekalah yang mendorong para perempuan itu tumbuh sebagai sosok Kartini-Kartini baru.

Dr. Martha Tilaar, berkat kerja kerasnya selama 33 tahun, kini menakhodai kapal besar perusahaan kosmetika Indonesia berlabel ''Sari Ayu Martha Tilaar'' dengan omzet Rp 600 milyar setahun. Pengalaman dan semangat berjualan gelang jali-jali di masa kanak-kanak, memacunya menjadi istana bisnis kosmetik dan alat kecantikan nomor 1 di negeri ini.

Dr. Retno Iswari, ahli kecantikan dan bos perusahaan kosmetika ''Ristra Group'', meski mengaku belum sebesar Martha Tilaar, memiliki jaringan bisnis yang tidak kecil di kawasan Asia Tenggara hingga Eropa. Ia mengubah cerita gadis kecil pemalu di lingkungan feodal yang menjual hiasan dinding di masa kecil, menjadi bisnis berskala internasional.

Sedangkan Gayatri, dengan kemandirian seorang penjual permen, kini menduduki salah satu kursi direktur di bank tertua di Indonesia, Bank BRI.

Kisah Martha, Retno dan Gayatri bukanlah semacam dongeng Cinderella, yang mengubah kehidupan seorang gadis yang dizalimi ibu tiri, menjadi putri yang beruntung karena dicintai pangeran baik hati, dengan pertolongan Ibu Peri. Melainkan, cerita tentang kerja keras, dan sejarah tentang keberhasilan para orangtua --khususnya para ibu-- mengantarkan putri mereka menjadi pendekar-pendekar wanita yang memenangkan persaingan dan pertarungan di pasar. Para Srikandi dan Kartini baru itu mengarungi waktu yang panjang, sejak masih kanak-kanak, untuk mendapatkan singgasananya di istana sukses.

Apakah suatu kebetulan belaka, Martha Tilaar sudah belajar berbisnis gelang jali-jali dan kerajinan tangan lainnya saat masih kanak-kanak? Apakah tak ada artinya, ketika Retno Iswari mulai memperdagangkan kerajinan buatan tangannya di usia dini? Ataukah sekadar bertepatan kalau Iswari mulai belajar menjahit pakaian anak-anak dan berdagang kain ketika masih remaja di Solo? Niscaya tidaklah demikian. Yang mereka lakukan adalah suatu latihan dan praktek yang penuh kedisiplinan, sebuah langkah awal bagi kemandirian, keuletan, dan penjiwaan terhadap kehidupan dunia usaha. Dan, tak dimungkiri, semua itu mereka jalani berkat dorongan dan ketekunan sang ibu, yang dengan tekun dan sabar mendidik sang anak agar tidak menjadi bocah perempuan cengeng yang hanya bisa menadahkan tangan.

Martha Tilaar bukanlah seorang yang cerdas, karena sejak kecil pada tahun 1930-an, sering sakit-sakitan. Dokternya pun memperkirakan, ia akan tumbuh sebagai anak yang slow learner. Tapi, ternyata ibunda Martha punya trik khusus untuk menjaga talentanya sejak dini. Ibunya berusaha mengejar keterlambatan dengan cara mengajarinya berbagai keterampilan tangan dan aktivitas kreatif. Selain mendapatkan perawatan terbaik untuk seorang anak, di masa pertumbuhan itu, daya kreatif Martha dirangsang dengan diajari bekerja dan melakukan sesuatu yang tidak mengandalkan kecerdasan otak atau IQ.

Sejak kecil, Martha Tilaar sudah diajak untuk bisa membuat kerajinan tangan, dan kemudian menjualnya. Kerajinan pertama yang ia kuasai adalah membuat kalung dan gelang dari jali-jali dan soko telik. Karena ibunya seorang pedagang, di usia sekolah dasar, Martha kecil diajaknya berjualan. Gelang dengan satu lingkaran, harganya lebih murah, dua lingkaran agak mahal, dan yang paling mahal adalah gelang dengan tiga lingkaran. ''Nah, tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya kreatif, meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai belajar mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,'' Martha menyimpulkan arti tindakan ibunya.

Sosok ibu juga sangat penting bagi kehidupan Retno Iswari yang, setelah menikah dengan Suharto Tranggono --mantan Kolonel dan dokter Angkatan Udara-- menambah Tranggono di belakang namanya. Menurut Retno, ibunya adalah seorang istri yang sangat trampil dan berperan sangat penting dalam perkembangan kepribadiannya sebagai seorang pengusaha.

Di zaman Belanda, istri-istri para guru mendapat kursus kerajinan tangan. Ibunya mengajarkan keterampilan yang sama kepada Retno. Kerajinan itu di antaranya hiasan dinding berbentuk baki, yang pinggirannya dihiasi berbagai aksesori. Jadi, sejak kecil ia sudah diajari membuat kerajinan tangan untuk kemudian dijual. ''Itulah pendidikan kreatif yang saya terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' dokter spesialis kulit dan kelamin lulusan UI, 1968, itu mengenang.

Gayatri pun, sejak SD, sudah diajari dan didorong oleh ibunya untuk berdagang kecil-kecilan. Mulai dari jualan permen hingga menjahit pakaian anak-anak. Rasa percaya dirinya tinggi, karena sang ibu selalu mendorongnya agar optimistis. Sedangkan pertumbuhan intelektualnya didukung oleh ayahnya yang wartawan dan penggemar buku. Gayatri Rawit terbiasa hidup mandiri. Bahkan, saking mandirinya, pada usia remaja ia sudah terbiasa mencari uang jajan sendiri. Dengan uang hasil menjahit pakaian anak-anak, ia bisa membantu orangtuanya. Menurut Gayatri, kreativitas dan kemandirian dalam dirinya terbentuk akibat pengaruh ibunya yang terus-menerus mendorongnya untuk tidak bergantung, dan tegar. ''Mungkin ini kreativitas karena terpaksa,'' kata Gayatri sambil tertawa.

(Sebagian dari tulisan Wiratmadinata dan Jayani yang dimuat sebagai
Suplemen, GATRA, Nomor 23 Beredar Senin 21 April 2003)

-------------------------------------------------------------------------------- 

“Jangan hanya baca, yuk kunyah dan diskusikan bacaan ini..”Demikian Mey mengajak para sahabatnya berdiskusi.
“Mbak Teki dulu cerita apa kesimpulan yang didapat...?
“Hmmm apa ya..., aku jadi sedih nih karena ingat anak-anak BMI yang harus berpisah dengan ibu mereka yang sedang berjuang di negara asing demi masa depan mereka. Semoga jutaan anak-anak BMI yang terpaksa tumbuh tanpa ibu di Indonesia dapat memperoleh pendidikan sekolah dan pendidikan dalam rumah yang baik. Semoga mereka berkesempatan belajar entrepreneurship ya...... Aku suka sedih lho kalau mengingat ini...”Teki berkata sambil matanya menatap jauh ke depan.
“Kalau teh Eti bagaimana...?”Sekarang Mey bertanya kepada Eti.
“Kalau aku melihat bahwa entrepreneurship memang harus dilakukan sedini mungkin, seawal mungkin. Jadi untuk aku yang sekarang tidak punya anak, entrepreneurship itu harus aku kerjakan seawal mungkin dan sesering mungkin. Jangan menunggu pulkam, jangan menunggu kelas Mandiri Sahabatku berikutnya, dari sekarang dan di Hong Kong harus kita kerjakan. Baik itu di rumah majikan maupun di Victoria Park..”
“Betul, betul setuju...” serempak Mey dan Teki menjawab.
Mey yang tampak sudah membaca artikel ini terlebih dahulu menyampaikan kesimpulannya juga:
“Aku boleh ya punya 2 kesimpulan. Yang pertama ibu dari seluruh 3 tokoh perempuan ini hebat-hebat ya, mereka melatih dengan sengaja anak-anak mereka sejak dini, mereka bertindak sebagai guru, pelatih dan mentor untuk anak-anak mereka. Aku salut pada ibu dari bu Martha Tilaar yang bisa menerima bahwa bu Martha tidak pandai secara akademis walaupun saudara-saudaranya yang lain pandai-pandai. Setelah itu sang ibu bertindak membantu bu Martha dengan cara mengasah ketrampilan dan kepandaian berentrepreneur untuk masa depan bu Martha. Yang kedua aku mau stabilo ya beberapa kalimat penting dalam cerita ini yaitu yang berhubungan dengan kreativitas...” Mey mengambil stabilo dan menandai kalimat-kalimat dibawah ini yang dianggap penting oleh dia, yaitu:

“Nah, tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya kreatif, meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai belajar mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,'' (pernyataan ibu Martha Tilaar)

''Itulah pendidikan kreatif yang saya terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' (Pernyataan ibu Retno)

(Bersambung)

Pertanyaan untuk Refleksi: Bagaimana caranya melatih kemandirian dan kreativitas kepada anak-anak sementara anda dan anak tinggal terpisah...?

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 13


Sekolah Kehidupan

Bagian 13: Gagasan Yang Tidak Dapat Ditolak




Mey yang sudah paham dan berwawasan luas tentang Kecerdasan Jamak mempraktekkan pengetahuan barunya kepada Grace. Ia melakukan pengamatan yang mendalam dan mencatat hal-hal yang penting tentang perilaku Grace. Ia ingin dapat mengetahui dengan tepat apa keberbakatan Grace dan apa cara terbaik mengembangkannya. Suatu sore Mrs.Chen sangat gundah karena hasil ulangan Matematika dari Grace kembali tidak memuaskan. Ia melepaskan kejengkelannya dengan duduk menyendiri sambil menghela nafas dengan berat pada saat itulah Mey datang mendekat dan memberikan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan:

“Mrs.Chen seandainya Grace kelak menjadi bintang panggung seperti Teresa Teng atau the Twins yang patungnya ada di Museum Madame Tussaud apakah sebagai seorang ibu akan merasa bangga...?
“Ya, tentu pasti, ibu mana yang tak bangga melihat prestasi anaknya yang kemudian dianggap pantas berada di Museum Madame Tussaud..” Mrs.Grace menjawab dengan segera namun kemudian Mey melanjutkan.
“Maaf madam ini pertanyaan yang kedua, seandainya Grace mencapai prestasi tsb namun di raport SD sampai SMA nya angka matematika nya selalu merah apakah madam akan tetap bangga dengan prestasi Grace..?  Seperti disambar geledek Mrs.Chen mendapat pertanyaan ini dan dengan cepat ia balik bertanya kepada Mey:”Kenapa, kenapa Mey bertanya seperti ini....?”

Mey sudah menduga pertanyaan ini sehingga dengan percaya diri ia menjelaskan:”Grace menghabiskan begitu banyak waktu untuk belajar matematika sehingga keberbakatan Grace yang asli tidak mendapat kesempatan untuk ditumbuhkan. Seandainya madam mengijinkan dia untuk belajar lebih banyak untuk menyanyi dan menari serta merelakan angka matematikanya tidak sehebat George maka Grace dapat menjadi dirinya sendiri. Ia dapat juga berprestasi dan tentunya berbeda dengan prestasi George. Madam anda punya 2 anak hebat namun berbeda satu sama lain kehebatannya...” Mrs.Chen sebagai seorang eksekutif perusahaan penerbangan tentu memiliki otak yang cemerlang sehingga dengan kritis ia mengajukan pertanyaan berikut:
“Bagaimana kamu sendiri tahu bahwa Grace memiliki keberkatan dalam bidang seni suara dan tari..?”

“Madam saya memiliki 3 alasan...” Mey menjawab dengan tetap tenang.
“Pertama setiap kali Grace mendengar lagu apakah itu dari TV, radio atau dari HP ia selalu mengerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama musik. Kalau musik yang terdengar yang menjadi kesukaannya maka  ia akan menari dengan cara dia sendiri. Ia menciptakan tariannya sendiri. Ketika Grace gembira ia suka menyanyikan lagu karangan dia sendiri. Kedua kalau saya mengantar Grace dan melewati pertokoan paling suka ia mampir di toko musik. Ketiga kalau madam perhatikan maka Grace selalu terlibat dalam kegiatan sekolah yang berhubungan dengan seni tari dan seni suara......”

“Ya ampun kenapa ini semua luput dari mataku ya Mey..” Sekarang Mrs.Chen makin terheran-heran, ia menggosok-gosok matanya seakan ada selaput di matanya.
“Ya habis madam selalu melihat prestasi anak hanya dari matematika seperti George ya pantas dong keberbakatan Grace tidak pernah terlihat......” Mey terus menjelaskan dan Mrs.Chen masih tampak terpana. Kemudian Mey mengajak Mrs.Chen untuk melakukan pengamatan langsung kepada Grace.
“Sekarang Grace sedang di kamar, nanti aku akan pura-pura masuk dan kemudian akan menyalakan musik kesukaannya, setelah itu aku akan keluar dan mari kita bersama mengintip dari celah pintu apa yang Grace akan lakukan...” Mey mengajukan usul yang dengan segera disetujui Mrs.Chen. 

Ketika musik kesukaannya melantun lembut dan merdu dan tidak ada seorangpun di dalam kamar maka Grace seakan menemukan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia beranjak mengerakkan tubuhnya, meliuk ke kanan dan ke kiri, membongkok dan juga melompat, tangan dan kaki bergerak seakan sebuah harmoni. Ia sedang mengekspresikan diri melalui gerak tari ciptaan sendiri. Mrs.Chen semakin terbuka matanya dan dengan menutup mulut ia hanya berdesah:”Kenapa..., kenapa hal seperti ini tidak pernah dilakukan Grace di depan kami orang tuanya....? Mey kembali menjelaskan sebisanya:”Madam seluruh keluarga ini adalah keluarga matematika, baik Mr.Chen, George dan madam sendiri kalian semua adalah orang-orang angka, itulah yang kalian perbincangkan setiap saat dan Grace berbeda dengan kalian, ia merasa jadi anak bodoh karena tidak pandai matematika. Ia merasa keberbakatan yang ia miliki bukan sebuah kebanggan untuk kalian oleh karena itu ia tidak pernah berani untuk menampilkannya...?”

Sekarang mata Mrs.Chen mulai basah ia menyesali apa yang telah ia lakukan kepada Grace dan ia sangat berterima kasih kepada Mey.
“Mey kamu berbeda sekali dibandingkan dengan nanny yang lain, apa yang terjadi denganmu Mey...” Sekarang Mrs.Chen memegang bahu Mey dan bertanya. Mey menatap lembut Mrs.Chen dan menjawab:”Terima kasih madam sudah mengijinkan aku belajar di pelatihan Entrepreneurship Mandiri Sahabatku, pelatihan itu mengubah pola pikirku, pertama aku belajar mendengar, menghargai dan memberikan yang terbaik untuk pelanggan dan kalianlah keluarga Chen pelanggan utamaku. Sejak pelatihan itu aku memutuskan untuk  membaca lebih banyak tentang pendidikan anak dari koran, majalah maupun internet.  Kedua kami diajar untuk berinovasi untuk pelanggan, untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan beda yang berguna untuk pelanggan kami. Ketiga kami juga diberikan motivasi untuk berani bekerja keras melampui batas-batas apa yang diwajibkan sebab kami percaya setiap langkah-langkah yang menembus batas akan lebih memperkaya hidup kami sendiri...”

“Mey, kamu baik sekali, keluarga Chen beruntung memiliki engkau di tengah kami...” Demikian ucapan Mrs.Chen sambil memeluk erat Mey dan tetes-tetes air mata bahagia mengalir lembut di pipi Mrs.Chen dan juga di hati Mey.
“Namun bagaimana ya aku bisa mengembangkan keberbakatan Grace berikutnya...” Sekarang Mrs.Chen mulai berpikir lagi syukurlah Mey sangat mendalami pekerjaannya sehingga kembali terlihat wawasannya sangat luas berbeda dengan nanny yang biasa. Ia berkata:
“Aku sih pernah bertanya ke Pak Antonius Tanan mentor kami di pelatihan Mandiri Sahabatku, dia kan punya S2 dalam bidang Gifted/Talented Education atau Pendidikan untuk Anak-Anak Berbakat. Ia pernah berkata bahwa masa Taman Kanak biarlah menjadi masa eksplorasi anak terhadap ragam keberbakatan. Pada masa SD bawa anak-anak mengalami dan mencoba sendiri ragam aktivitas, apakah itu yang berkaitan dengan seni, olah raga, bisnis, wisata alam, kegiatan sosial, apa saja yang bisa jadi inspirasi dalam kehidupan pokoknya hidup anak jangan hanya yang akademik-akademik saja madam, harapannya selama masa SD anak-anak sudah tahu apa yang jadi keberbakatannya. Jadi madam harus bersyukur baik George dan Grace di usia dini mereka sudah terlihat jelas keberbakatannya...”

“Oh begitu ya, ayo teruskan lagi Mey, sekarang aku yang sedang belajar dari engkau..” Mrs.Chen tampak bersemangat mendengarkan Mey.
“Seandainya sudah ditemukan keberbakatannya maka pada masa SMP dapat menjadi masa untuk menumbuhkan secara khusus. Bukan berarti tidak bisa lebih awal dari jenjang SMP. Lebih dini tentu lebih baik. Nah kalau sudah SMA paling tidak sudah belajar bagaimana mengentrepreneurkan keberbakatannya sehingga anak-anak kita lebih siap di masa depan. ......”

“Oh jadi entrepreneurship harus diajarkan di sekolah dan dalam keluarga sejak dini, begitu ya Mey..? Mrs.Chen ingin tahu lebih banyak dan Mey menjawab dengan mantap:
“Betul, waktu di pertemuan terakhir Mandiri Sahabatku pak Antonius membawa serta anak perempuannya yang baru berumur 12 tahun namanya Iona. Selama pelatihan Kelas Dasar Iona ikut maju ke depan kelas dan melakukan public speaking, bercerita di depan kami. Ia menceritakan bahwa sejak kelas 3 SD sudah belajar berjualan di sekolah dan sejak kelas 3 SD juga ia sudah berlatih membantu teman-temannya yang kesulitan belajar matematika. Iona memiliki bakat matematika dan dilatih bagaimana mengentepreneurkan keberbakatannya. Ia bisa berbicara di depan umum tanpa canggung dan ia juga sudah bisa menjadi “asisten cilik guru” mengajar murid lain topik matematikan walau umurnya baru 12 tahun...” Demikian Mey menjelaskan

“Wah kalau begitu kami juga harus belajar lebih banyak dan jika perlu bertemu seorang ahli pendidikan anak-anak berbakat di Hong Kong..? Mrs.Chen sekarang merasakan kebutuhan yang baru. Rupanya Mey juga sudah siap dengan pernyataan ini dan ia berkata: “Silahkan madam menghubungi The Hong Kong Academy for Gifted Education, ini adalah organisasi yang menangani pendidikan anak-anak berbakat di Hong Kong.”
“Koq kamu tahu banyak sekali ya Mey...?” Mrs.Chen bertanya.

 “Kan sudah aku beri tahu bahwa keluarga Chen adalah pelanggan utamaku dan adalah tugasku untuk tahu banyak tentang kebutuhan para pelanggan ku dan berinovasi menciptakan produk layanan yang membuat pelanggan kami merasa sangat puas. Aku ingin api entrepreneurship terus menyala di dalam hati dan jiwaku dan mempengaruhi apapun yang aku kerjakan.....setiap hari”

(Bersambung)

Pertanyaan Refleksi: Bagaimana caranya menumbuhkan keberbakatan kita atau anak-anak kita...?

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 12


Sekolah Kehidupan

Bagian 12: Kecerdasan Jamak



Mey menjelaskan kepada Teki dan Eti bahwa ia membaca artikel tentang Kecerdasan Jamak atau Multiple Intelligence dan kemudian ia mendalami pengetahuan baru itu.
“Konsep Kecerdasan Jamak menyatakan bahwa Kecerdasan itu tidak hanya satu jenis. Misalnya dulu waktu aku di sekolah, anak-anak yang dianggap cerdas adalah anak-anak yang jago MAFIA nya...”
“Apa itu MAFIA, masa cerdas koq MAFIA an...”Eti langsung memberikan komentar.
“Oh bukan Mafia itu teh Eti, waktu aku sekolah dulu yang namanya MAFIA itu Matematika, Fisika dan Kimia, aku jelaskan dulu ya sampai tuntas...” Demikian Mey menjawab.
“Setuju,... setuju,.. hayo Mey teruskan..”Teki kembali memberi semangat.
“Padahal menurut Prof Gardner,  kecerdasan itu macam-macam, ada cerdas matematika seperti pak Agung Waluyo tuh yang sekolahnya sampai S3 di bidang Fisika. Ada juga yang cerdas musikal, itu sih gampang siapa pemusik top pasti punya kecerdasan ini, mbak Dian yang membuat lagu Salam 3 Jari adalah juga contohnya. Selanjutnya cerdas bahasa misalnya mbak Gladys yang membuat puisi Kurcaci Kecil dan teman-teman BMI lain yang jadi penulis.  Kalau yang cerdas spatial atau visual adalah mereka ahli mengolah gambar seperti pelukis, komikus dan seniman patung. Kemudian cerdas kinestetis..., ini adalah cerdas atau terampil mengolah tubuh dan anggota tubuh, misalnya para  olah ragawan, penari dan termasuk teman-teman kita yang tangannya terampil membuat hasta karya yang indah dan juga yang pintar kuliner, mereka punya tangan yang cerdas dalam mengolah makanan...”

Teki dan Eti terpana dengan wawasan Mey yang sangat luas sekarang, tampaknya ia sudah lulus dari jenjang SMP atau Selalu Menjadi Pembelajar di dalam Sekolah Kehidupan. Mey kembali meneruskan penjelasannya:
“Berikutnya adalah kecerdasan interpersonal atau cerdas mengelola relasi dengan orang lain. Mereka yang cerdas dalam hal ini gampang sekali berelasi dengan orang lain, baik membuka percakapan dan membangun pertemanan. Ini penting lho dalam kecakapan menjual. ...........Setelah itu kecerdasan Intrapersonal, orang yang cerdas dalam hal ini adalah orang yang senang memikirkan dan merenungkan diri sendiri untuk lebih memahami diri. Selanjutnya kecerdasan alam atau naturalistik, orang-orang ini sangat suka dengan alam dan binatang, contohnya itu lho teman-teman yang suka hiking dan panjat gunung. Yang terakhir kecerdasan eksistensialis, ini yang paling sulit deh untuk aku karena orang-orang ini suka filsafat dan pemikiran-pemikiran tentang kehidupan yang mendalam...”

“Waduh aku rasanya bukan orang yang cerdas nih Mey..., kasihan deh aku.” Eti berkata sambil memelas.
“Nanti dulu Eti coba dengarkan dulu, setiap kita memiliki ragam kecerdasan namun tingkatannya berbeda-beda, memang ada beberapa orang tertentu sudah memiliki bakat istimewa sejak kecil namun bakat saja tanpa pelatihan dan pengembangan tidak akan jadi prestasi......”
“Oh gitu ya Mey,...... nah kalau aku sendiri rasanya kecerdasan matematikanya rendah sekali, pokoknya jeblok deh, soalnya waktu belajar angka-angka dengan mbak Rima dan pak Winarto mumet seharian...... yo dilatih kayak apapun rasanya tidak bisa sejajar dengan Einstein, gimana tuh Mey...”Teki dengan kristis menjawab.
Mey yang sudah banyak membaca tentang Kecerdasan Jamak dengan tenang menerangkan:”Pertanyaan yang bagus Teki...... oleh karena itulah kita harus paham dengan tepat apa keberbakatan kita dan bila kita paham maka kita dapat membangun masa depan kita berdasarkan titik-titik terkuat hidup kita. Dan jangan merasa miskin bakat lho, aku percaya TUHAN memberikan lebih dari cukup, kita dapat memiliki beberapa atau banyak bakat, namun tugas kita adalah mencari, memahami dan menumbuhkannya.”

“Hmm, seperti istilah Ekspresi Diri ya dalam salam entrepreneur atau salam 3 jari itu...” Eti yang sudah makin paham bisa berkomentar.
“Itu tepat sekali, menurut pak Antonius Tanan, Ekspresi Diri itu artinya sanggup mengentrepreneurkan keberbakatan kita sehingga sanggup mencapai Ekonomi Sejahtera...”
“Jadi penasaran nih Mey, yuk kita tebak mentor-mentor UCEC itu punya kecerdasan apa saja ya, kalau pak Agung kan pasti cerdas matematika, kalau pak Winarto apa ya....?”Teki mengajak dua temannya berdiskusi.
“Rasanya cerdas logika matematika juga tuh habis ngajarnya yang pakai angka-angka ...” Sekarang Eti mulai paham.
“Kalau pak Antonius...?” Kembali Teki menantang.
“Mungkin cerdas bahasa ya, habis tulis novel dan puisi ...”Eti sekarang makin paham.
“Kalau pak Dharma...? Teki terus menantang
“Wah kalau pak Dharma orangnya gaul pisan, pasti punya kecerdasan interpersonal...”Eti menjawab dengan percaya diri sambil matanya terus melihat contekan definisi kecerdasan jamak di HP milik Mey.
“Kalau mbak Rima...?” Teki kembali bertanya.
“Ini sih gampang, yang pasti mbak Rima adalah yang paling cerdas diantara para mentor UCEC...!”Eti menegaskan
“Hidup perempuan, bagaimana kau bisa tahu itu Eti..” Mey sekarang berkomentar.
“Iya dong mbak Rima pasti yang paling cerdas, bayangkan dia satu-satunya perempuan ditengah 4 laki-laki yang lebih senior dan dia bisa masuk dalam tim mentor UCEC, apa itu bukan hebat...” Eti dengan cepat menjawab.
“Ha... ha.. ha.., hidup perempuan Indonesia...” Sekarang mereka bertiga serempak tertawa dan berpelukan merayakan kehebatan perempuan Indonesia.

“Tapi apa betul kita dapat punya lebih dari satu kecerdasan Mey...?” Teki yang masih ragu, terus berpikir bertanya lagi ke Mey.
“Ya aku percaya kita bisa punya beberapa keberbakatan yang menonjol, misalnya para mentor dan trainer kita selain memiliki kecerdasan-kecerdasan masing-masing pasti mereka juga memiliki kecerdasan berbahasa, paling tidak kan mereka pandai berbicara di depan umum dengan lancar, tapi jangan lupa ya latihan itu penting, mereka pasti sudah terlatih...”Mey menjelaskan bak seorang guru.

“Satu pertanyaan terakhir Mey, diantara ke 9 itu mana yang paling menentukan keberhasilan...?” Teki bertanya dengan serius.
“Menurut para ahli yang paling menentukan adalah  kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan kecerdasan mengelola diri sendiri. Katanya sih itu yang namanya EQ atau Emotional Quotient. Dan kabar baiknya dua kecerdasan itu adalah kecerdasan yang paling ramah terhadap pelatihan artinya kita bisa meningkatkan kecerdasan kita dalam 2 hal tsb dengan cepat asal kita mau dan disiplin. TUHAN itu baik ya, bagian-bagian yang paling menentukan adalah bagian yang paling lentur untuk dibentuk. Makanya teruslah meningkatkan ketrampilan menjual karena itu contoh kecerdasan interpersonal...” Demikian Mey menjelaskan.
“Satu pertanyaan terakhir dari aku Mey...”Sekarang Eti yang bertaya
“Silahkan, apa itu, sebisanya aku akan menjawab..”Mey menjawab kalem.
“Kapan kamu ceritakan hubungan Kecerdasan Jamak dengan berentrepreneur di rumah majikan...?” Eti meneruskan pertanyaannya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Oh ya hampir aku lupa dengan yang paling utama..., yup sekarang aku siap” Mey segera menjawab.

(Bersambung)
Refleksi: Apa kecerdasan anak-anak Anda dan bagaimana mereka bisa menumbuhkan keberbakatan mereka? Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru untuk membantu anak-anak menumbuhkan kecerdasan intrapersonal dan interpersonal (2 kecerdasan yang memiliki pengaruh besar untuk masa depan mereka)?