Sekolah Kehidupan
Bagian 14: Perempuan-Perempuan Perkasa
Victoria Park masih ramai di hari Minggu itu, obrolan, canda dan celoteh BMI masih seru terdengar disana sini. Ada yang berwajah ceria ada yang berwajah gundah ada juga yang sedang kecewa. Semua ragam ungkapan emosi ada di Victoria Park setiap hari Minggu. Tiga sahabat Teki, Eti dan Mey masih bercengkrama menceritakan pengalaman mereka berentrepreneur di rumah majikan. Bukan berarti berdagang dari rumah majikan tapi melaksanakan semangat inovasi dan berprestasi di tempat kerja. Mey yang banyak membaca dan mengumpulkan informasi berbagi inspirasi kepada teman-temannya:
“Teki, Eti aku mendapat majalah Gatra yang sudah lama sekali, eh didalamnya ada kisah tentang 3 entrepreneur perempuan yuk kita baca sama-sama..”
---------------------------------------------------------------------------------------------
Langkah Perempuan di Tiga Zaman
MARTHA Tilaar di Kebumen, Retno Iswari di Jakarta, Gayatri Rawit di Solo. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Orangtua mereka juga tidak saling mengenal. Tapi, lihatlah masa lalu mereka yang unik, seakan-akan ada benang merah yang menarik ketiganya pada satu kata: sukses.
Di masa kanak-kanak, Martha Tilaar diajari ibunya berjualan gelang jali-jali yang dibuat sendiri. Retno Iswari menangis malu karena diperintah berdagang hiasan dinding. Gayatri Rawit senang saja disuruh berjualan permen di koperasi sekolah dasar.
Memang, bunda ketiga perempuan itu sama-sama memiliki jiwa entrepreneur, dan mendorong anak-anaknya untuk belajar mencari uang sendiri. Adapun ayah mereka sama-sama guru pula --kecuali ayah Gayatri seorang wartawan dan penulis, sementara ibunya seorang guru SD.
Dari atmosfer kehidupan keluarga yang seperti itulah, sosok Martha Tilaar, Retno Iswari, dan Gayatri Rawit tumbuh dan menjadi wanita sukses. Mereka juga sama-sama dibentuk oleh suatu iklim pendidikan yang mengutamakan kreativitas, kemandirian, dan mendapatkan perhatian penuh dari orangtua. Ketiga perempuan itu adalah produk dari perpaduan kekuatan intelektual yang diturunkan ayah-ayah mereka, dengan jiwa kewirausahaan dari para ibu. Ketiga ibu merekalah yang mendorong para perempuan itu tumbuh sebagai sosok Kartini-Kartini baru.
Dr. Martha Tilaar, berkat kerja kerasnya selama 33 tahun, kini menakhodai kapal besar perusahaan kosmetika Indonesia berlabel ''Sari Ayu Martha Tilaar'' dengan omzet Rp 600 milyar setahun. Pengalaman dan semangat berjualan gelang jali-jali di masa kanak-kanak, memacunya menjadi istana bisnis kosmetik dan alat kecantikan nomor 1 di negeri ini.
Dr. Retno Iswari, ahli kecantikan dan bos perusahaan kosmetika ''Ristra Group'', meski mengaku belum sebesar Martha Tilaar, memiliki jaringan bisnis yang tidak kecil di kawasan Asia Tenggara hingga Eropa. Ia mengubah cerita gadis kecil pemalu di lingkungan feodal yang menjual hiasan dinding di masa kecil, menjadi bisnis berskala internasional.
Sedangkan Gayatri, dengan kemandirian seorang penjual permen, kini menduduki salah satu kursi direktur di bank tertua di Indonesia, Bank BRI.
Kisah Martha, Retno dan Gayatri bukanlah semacam dongeng Cinderella, yang mengubah kehidupan seorang gadis yang dizalimi ibu tiri, menjadi putri yang beruntung karena dicintai pangeran baik hati, dengan pertolongan Ibu Peri. Melainkan, cerita tentang kerja keras, dan sejarah tentang keberhasilan para orangtua --khususnya para ibu-- mengantarkan putri mereka menjadi pendekar-pendekar wanita yang memenangkan persaingan dan pertarungan di pasar. Para Srikandi dan Kartini baru itu mengarungi waktu yang panjang, sejak masih kanak-kanak, untuk mendapatkan singgasananya di istana sukses.
Apakah suatu kebetulan belaka, Martha Tilaar sudah belajar berbisnis gelang jali-jali dan kerajinan tangan lainnya saat masih kanak-kanak? Apakah tak ada artinya, ketika Retno Iswari mulai memperdagangkan kerajinan buatan tangannya di usia dini? Ataukah sekadar bertepatan kalau Iswari mulai belajar menjahit pakaian anak-anak dan berdagang kain ketika masih remaja di Solo? Niscaya tidaklah demikian. Yang mereka lakukan adalah suatu latihan dan praktek yang penuh kedisiplinan, sebuah langkah awal bagi kemandirian, keuletan, dan penjiwaan terhadap kehidupan dunia usaha. Dan, tak dimungkiri, semua itu mereka jalani berkat dorongan dan ketekunan sang ibu, yang dengan tekun dan sabar mendidik sang anak agar tidak menjadi bocah perempuan cengeng yang hanya bisa menadahkan tangan.
Martha Tilaar bukanlah seorang yang cerdas, karena sejak kecil pada tahun 1930-an, sering sakit-sakitan. Dokternya pun memperkirakan, ia akan tumbuh sebagai anak yang slow learner. Tapi, ternyata ibunda Martha punya trik khusus untuk menjaga talentanya sejak dini. Ibunya berusaha mengejar keterlambatan dengan cara mengajarinya berbagai keterampilan tangan dan aktivitas kreatif. Selain mendapatkan perawatan terbaik untuk seorang anak, di masa pertumbuhan itu, daya kreatif Martha dirangsang dengan diajari bekerja dan melakukan sesuatu yang tidak mengandalkan kecerdasan otak atau IQ.
Sejak kecil, Martha Tilaar sudah diajak untuk bisa membuat kerajinan tangan, dan kemudian menjualnya. Kerajinan pertama yang ia kuasai adalah membuat kalung dan gelang dari jali-jali dan soko telik. Karena ibunya seorang pedagang, di usia sekolah dasar, Martha kecil diajaknya berjualan. Gelang dengan satu lingkaran, harganya lebih murah, dua lingkaran agak mahal, dan yang paling mahal adalah gelang dengan tiga lingkaran. ''Nah, tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya kreatif, meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai belajar mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,'' Martha menyimpulkan arti tindakan ibunya.
Sosok ibu juga sangat penting bagi kehidupan Retno Iswari yang, setelah menikah dengan Suharto Tranggono --mantan Kolonel dan dokter Angkatan Udara-- menambah Tranggono di belakang namanya. Menurut Retno, ibunya adalah seorang istri yang sangat trampil dan berperan sangat penting dalam perkembangan kepribadiannya sebagai seorang pengusaha.
Di zaman Belanda, istri-istri para guru mendapat kursus kerajinan tangan. Ibunya mengajarkan keterampilan yang sama kepada Retno. Kerajinan itu di antaranya hiasan dinding berbentuk baki, yang pinggirannya dihiasi berbagai aksesori. Jadi, sejak kecil ia sudah diajari membuat kerajinan tangan untuk kemudian dijual. ''Itulah pendidikan kreatif yang saya terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' dokter spesialis kulit dan kelamin lulusan UI, 1968, itu mengenang.
Gayatri pun, sejak SD, sudah diajari dan didorong oleh ibunya untuk berdagang kecil-kecilan. Mulai dari jualan permen hingga menjahit pakaian anak-anak. Rasa percaya dirinya tinggi, karena sang ibu selalu mendorongnya agar optimistis. Sedangkan pertumbuhan intelektualnya didukung oleh ayahnya yang wartawan dan penggemar buku. Gayatri Rawit terbiasa hidup mandiri. Bahkan, saking mandirinya, pada usia remaja ia sudah terbiasa mencari uang jajan sendiri. Dengan uang hasil menjahit pakaian anak-anak, ia bisa membantu orangtuanya. Menurut Gayatri, kreativitas dan kemandirian dalam dirinya terbentuk akibat pengaruh ibunya yang terus-menerus mendorongnya untuk tidak bergantung, dan tegar. ''Mungkin ini kreativitas karena terpaksa,'' kata Gayatri sambil tertawa.
(Sebagian dari tulisan Wiratmadinata dan Jayani yang dimuat sebagai
Suplemen, GATRA, Nomor 23 Beredar Senin 21 April 2003)
--------------------------------------------------------------------------------
“Jangan hanya baca, yuk kunyah dan diskusikan bacaan ini..”Demikian Mey mengajak para sahabatnya berdiskusi.
“Mbak Teki dulu cerita apa kesimpulan yang didapat...?
“Hmmm apa ya..., aku jadi sedih nih karena ingat anak-anak BMI yang harus berpisah dengan ibu mereka yang sedang berjuang di negara asing demi masa depan mereka. Semoga jutaan anak-anak BMI yang terpaksa tumbuh tanpa ibu di Indonesia dapat memperoleh pendidikan sekolah dan pendidikan dalam rumah yang baik. Semoga mereka berkesempatan belajar entrepreneurship ya...... Aku suka sedih lho kalau mengingat ini...”Teki berkata sambil matanya menatap jauh ke depan.
“Kalau teh Eti bagaimana...?”Sekarang Mey bertanya kepada Eti.
“Kalau aku melihat bahwa entrepreneurship memang harus dilakukan sedini mungkin, seawal mungkin. Jadi untuk aku yang sekarang tidak punya anak, entrepreneurship itu harus aku kerjakan seawal mungkin dan sesering mungkin. Jangan menunggu pulkam, jangan menunggu kelas Mandiri Sahabatku berikutnya, dari sekarang dan di Hong Kong harus kita kerjakan. Baik itu di rumah majikan maupun di Victoria Park..”
“Betul, betul setuju...” serempak Mey dan Teki menjawab.
Mey yang tampak sudah membaca artikel ini terlebih dahulu menyampaikan kesimpulannya juga:
“Aku boleh ya punya 2 kesimpulan. Yang pertama ibu dari seluruh 3 tokoh perempuan ini hebat-hebat ya, mereka melatih dengan sengaja anak-anak mereka sejak dini, mereka bertindak sebagai guru, pelatih dan mentor untuk anak-anak mereka. Aku salut pada ibu dari bu Martha Tilaar yang bisa menerima bahwa bu Martha tidak pandai secara akademis walaupun saudara-saudaranya yang lain pandai-pandai. Setelah itu sang ibu bertindak membantu bu Martha dengan cara mengasah ketrampilan dan kepandaian berentrepreneur untuk masa depan bu Martha. Yang kedua aku mau stabilo ya beberapa kalimat penting dalam cerita ini yaitu yang berhubungan dengan kreativitas...” Mey mengambil stabilo dan menandai kalimat-kalimat dibawah ini yang dianggap penting oleh dia, yaitu:
“Nah, tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya kreatif, meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai belajar mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,'' (pernyataan ibu Martha Tilaar)
''Itulah pendidikan kreatif yang saya terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' (Pernyataan ibu Retno)
(Bersambung)
Pertanyaan untuk Refleksi: Bagaimana caranya melatih kemandirian dan kreativitas kepada anak-anak sementara anda dan anak tinggal terpisah...?