NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN
Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP
|
Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
Bab 2
Jeruji Besi Diperbaiki
Mendengar laporan jeruji-jeruji besi di kolam ikan hiunya jebol, Pak Harno sedih. Ikan-ikan hiu peliharaannya yang sudah gemuk-gemuk itu, raib tanpa bekas. Ia memerintahkan seluruh karyawan yang mengurus kolam ikan menyusuri tepian pantai untuk mencari ikan-ikan hiu itu.
Berhari-hari para pegawai mencari ikan-ikan hiu yang hilang itu, mereka menyisiri pantai, naik kapal boat ke tengah laut, dan melihat dermaga-dermaga yang ada di sekitar kepulauan Dua Ribu. Di saat mereka mulai putus asa, titik cerah datang. Ketika itu, para pegawai yang sekaligus pengasuh ikan-ikan hiu, melihat sinar putih keperakan tengah berlompat-lompatan di tengah laut.
“Lihat, jangan-jangan itu ikan-ikan hiu peliharaan kita!” teriak seorang pegawai.
“Ayo kita kejar mereka!” saran rekannya dari atas kapal boat.
“Cepat, arahkan kapal ke mereka, kita giring mereka ke pantai!” ujar seorang lagi.
Kapal boat yang mereka tumpangi segera meluncur ke ikan-ikan hiu yang tengah berlompatan itu. Dan benar! Tatkala mereka tiba, itu adalah rombongan ikan hiu pimpinan ayah Cury. Segera para pegawai Pak Harno menggiring mereka ke dermaga. Iring-iringan ikan hiu berenang perlahan dengan patuh, mereka mengikuti aba-aba seorang pegawai yang sudah mereka kenal. Sambil berjalan, daging-daging segar dilemparkan ke arah mereka. Ikan-ikan hiu yang tengah kelaparan itu melahap daging-daging segar itu dengan rakus. Cury melihat semua ini dengan perasaan campur aduk. Ia tidak ikut melahap daging-daging segar itu, perutnya kenyang karena selama dalam perjalanan, ia memakan teripang, rumput laut dan ikan-ikan kecil tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Pak Harno gembira ketika memperoleh khabar ikan-ikan hiunya telah kembali ke kolam. Kali ini pagar terali pembatas dengan laut luas telah diperbaharui dan diperkokoh. Ikan-ikan hiu itu kembali ke kandang mereka yang nyaman dan aman. Mereka beranak-pinak sehingga dalam waktu singkat, kolam itu terasa semakin sempit dengan munculnya hiu-hiu baru yang imut-imut.
Semakin banyak warga Hiu Kolam maka semakin besar kekhawatiran para Hiu Kolam generasi pertama. Mereka sangat takut anak-anak hiu yang masih imut-imut itu bertindak nakal dan keluar dari kisi-kisi jeruji besi. Oleh karena itu mereka membuat sebuah peraturan keras melarang mendekati jeruji besi. Mereka mengajarkan dan menekankan bahwa daerah di luar kolam sebagai Daerah Penuh Resiko sedangkan kolam pak Harno mereka sebut sebagai Daerah Nyaman atau Comfort Zone. Itulah yang ditanamkan kepada anak-anak hiu, para hiu generasi pertama mengajarkannya sedemikian keras, sehingga timbul sebuah kepercayaan di generasi muda hiu kolam bahwa menjadi Hiu Lautan adalah sebuah perbuatan yang tidak mulia, ganas dan menyeramkan.
Tiap saat, tiap jam, larangan untuk keluar dari Daerah Nyaman semakin gencar dibisikkan ke telinga para hiu kolam muda yang baru lahir itu. Jangankan mencoba membuka pintu jeruji besi yang menjadi satu-satunya jalan ke laut lepas, mendatanginya saja dilarang.
Yang tetap gelisah adalah Cury. Ia bosan dengan kehidupan yang itu-itu saja. Pekerjaannya setiap hari hilir mudik di sekitar kolam, bercanda dengan ikan-ikan hiu yang lebih muda darinya, atau menunggu hidangan daging segar yang diberikan para pegawai Pak Harno.
“Gawat nih kalau begini-begini terus, bisa-bisa aku mati sia-sia dalam keadaan perut gendut akibat kekenyangan,” katanya suatu hari pada seekor hiu bernama Jackal.
“Lho memangnya kenapa? Kan enak hidup di sini, kita nggak perlu repot-repot lagi mencari makan.” Sanggah Jackal.
“Iya sih, hanya saja aku merasa jadi tidak kreatif. Jack, kalau kita ada di lautan luas, kita bisa jadi pintar, kreatif dan inovatif!”
“Maksudmu?”
“Begini, menurut Ayahku lautan luas itu ganas dan berbahaya, tapi waktu kita terhempas kesana, aku tidak melihat di sana berbahaya seperti yang diceritakan, tuh. Malah aku senang, aku bisa melihat kapal pukat, ikan-ikan lain dengan berbagai jenis, bisa lihat bintang laut, kuda laut, rumput laut, dan banyak lagi. Aku malah ingin lihat manusia-manusia penyelam yang sedang menyelamatkan isi laut, sepertinya mengasyikkan.”
“Hah, gila kamu. Nanti manusia-manusia itu menusukmu bagaimana? Mereka lebih pintar dari kita, lho!”
“Ya kita jangan menyerang duluan. Kalau kita hanya diam dan mengamati dari jauh, mereka juga tidak akan berbuat jahat.”
“Ah, siapa bilang, kamu belum tahu seberapa jahatnya mereka. Kamu dengar tidak cerita para orangtua kita? Sirip kita sangat dicari oleh manusia, selain itu seluruh isi perut dan daging kita nilainya mahal, mereka menjadikan kita sumber uang.” Jackal melototkan matanya, ekornya bergoyang-goyang perlahan.
“Itu kan hanya cerita. Andai pun benar, kita bisa belajar untuk menghindarinya. Jack, kalau kita sudah berada di laut lepas, kita bisa belajar banyak, termasuk belajar bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya!”
“Ih, kamu ini pikiranmu selalu membuat aku tiak mengerti. Sudah enak hidup di sini, kok malah mau mencari susah.”
“Jack, aku mau tanya, bila suatu saat terjadi bencana besar seperti tsunami misalnya, lalu kolam kita hancur diserang tsunami, kamu mau berbuat apa?”
“Ya, para pegawai Pak Harno akan menolong kita. Aku akan selalu dekat orangtuaku, mereka pasti akan melindungi aku. Cury, kamu jangan berkhayal yang serem-serem dong, dulu waktu jeruji besi kita jebol saja, aku sudah ketakutan. Sudah, sekarang kita cerita yang asyik-asyik saja, hm…seperti hari ini, menu makan kita apa ya?” Jackal berenang ke kanan dan ke kiri, ia mulai tidak tangkas karena tubuhnya sudah mulai gendut.
“Huh, ngomong sama kamu selalu tidak nyambung, cape deh…” akhirnya Cury berenang perlahan mendekati jeruji pembatas. Dia bermain-bermain di sekitar jeruji, melihat ikan-ikan beraneka ragam hilir mudik berenang dengan gembira. Cury merasa iri. Duh, andai saja aku bisa berada di luar sana, aku pasti bisa melanglangbuana kemana aku suka. Tatapannya kemudian terarah ke sekelompok ikan yang berwarna keperakan. Bentuk ikan itu sama dengannya, wajahnya sama, ekornya pun sama. Aneh, ikan itu sama denganku, mengapa mereka bebas berada di lautan luas itu? Cury bertanya dalam hati. Ia meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan, mencoba menarik perhatian mereka. Hiu-hiu lautan lepas itu saling bercanda dengan teman-temannya. Mereka menerkam ikan-ikan yang lewat, kemudian melahapnya dengan rakus. Cury terpana. Hiu-hiu itu bisa makan apa saja sesuka mereka, sementara dirinya menunggu jam-jam yang telah ditentukan untuk makan. Hah, mengapa aku tidak bisa sebebas mereka? Keluhnya.
Ikan-ikan hiu yang berenang kian kemari itu bagai raja lautan. Ikan-ikan yang berpapasan dengannya ada yang memberi hormat, ada pula yang menghindar. Cury memperhatikan para hiu itu begitu gagah, begitu mandiri. Inilah yang disebut raja lautan sejati, pikirnya. Bentuk mereka sama denganku, mereka tidak memiliki rasa takut seperti yang dimiliki hiu-hiu kolam tempat aku tinggal. Hm…mengapa mereka begitu perkasa? Seandainya saja aku bisa seperti mereka…gumam Cury dalam hatinya.
Di sanalah, tatkala matanya yang tajam dan jernih memandang keluar, kesamudra raya, ia melihat sorot mata yang tajam ditujukan ke arahnya. Cury kaget, hampir saja ia berbalik dan kabur. Namun sorot mata itu seakan mengatakan agar ia tetap bertahan di tempatnya. Cury membatalkan niatnya untuk kabur, ia maju perlahan-lahan dan mulai penasaran ingin tahu, sorot mata siapakah itu?
Hiu Mentor
Di luar jeruji, seekor ikan hiu lautan dewasa tengah meliuk-liuk dengan bebasnya, moncongnya diarahkan ke wajah Cury. Ekornya bergerak mengikuti irama air laut. Giginya yang tajam dan kuat sesekali menyembul, memperlihatkan betapa perkasanya dia. Hiu lautan ini tidak mau beranjak dari balik jeruji, ia terus menatap Cury.
“Selamat pagi hiu pemberani!” tegurnya ramah.
Cury menjauh, hidungnya kembang kempis. Sekonyong-konyong ia teringat pesan ayah dan ibunya. “Ingat, Nak, jangan sekali-sekali kamu berbicara dengan hiu lautan, mereka akan berbicara manis, jika kamu terlena, kamu akan diseretnya ke lautan luas yang berbahaya!”
Ingat pesan itu, Cury spontan berteriak, “Pergi…pergi…jangan ganggu aku!”
Hiu lautan luas malah tersenyum. Ia tidak marah, ujarnya, “Seandainya engkau salah seekor hiu remaja yang tinggal di lautan luas, maka engkau akan menjadi pemimpin masa depan…”
Cury maju perlahan-lahan. Ia agak senang dengan pujian itu. Jujur diakuinya, selama ini tak seekor hiu pun yang pernah memujinya. Tapi, meski demikian Cury tak mau takabur.
“Hm…jangan coba-coba menipuku dengan pujian. Meski kamu memujiku setinggi langit, aku tidak tergoda…”
“Wajar jika kamu tidak percaya padaku. Namamu Curious, akrab disapa Cury kan? Nama itu cocok untukmu. Kamu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Aku sudah menduga jauh di lubuk hatimu yang terdalam, kamu memiliki rasa ingin tahu yang amat sangat tentang keadaan di lautan luas yang ada di balik jeruji besi kolam tempat tinggalmu. Aku juga menduga kamu merasa bosan dengan keadaan di sekelilingmu. Aku bisa melihat rasa penasaranmu saat engkau berkeliling dan mengintip kehidupan kami di samudra luas melalui jeruji besi ini. Aku salut dengan rasa ingin tahumu, sesungguhnya dalam dirimu mengalir darah seorang pemimpin.” Ujar Hiu Mentor.
Cury mendelikkan matanya. Baru kali ini ia mendengar seekor hiu dewasa memuji dirinya dengan mengatakan ia memiliki darah pemimpin. Hm… aku tidak boleh merasa tersanjung, aku harus waspada, pikirnya. “Mengapa kau mengatakan aku memiliki darah pemimpin? Apakah engkau seorang peramal sehingga dapat menebak masa depan? Bagaimana kau bisa meyakinkanku sehingga aku percaya pendapatmu benar?”
Hiu Mentor terseyum sabar, ia mengebas-ngebaskan ekornya, tubuhnya yang perkasa menunjukkan bahwa ia Hiu yang berwibawa dan kaya dengan pengalaman. “Sebelumnya perkenalkan, namaku Hiu Mentor, tugasku adalah mendidik dan membekali hiu-hiu muda agar mereka sanggup hidup di laut lepas di manapun mereka berada, aku adalah pelatih utama Akademi Entrepreneur untuk hiu-hiu lautan yang masih muda.” Ujar Hiu Mentor.
“Oh ya kami selalu menyebut hiu lautan yang sudah mandiri sebagai hiu entrepreneur atau entrepreneur saja, sama seperti manusia entrepreneur yang menikmati kebebasan maka hiu entrepreneur adalah hiu yang sanggup hidup mandiri karena mampu mencipta peluang, ber inovasi dan berani mengambil resiko terukur..”
”Setiap ayah dan ibu hiu di lautan adalah pelatih untuk anak-anak mereka, tapi tidak setiap anak hiu memiliki ayah dan ibu, tidak semua anak hiu mendapatkan pelatihan yang cukup. Aku sudah bertemu dan mendidik ribuan hiu muda, mataku sudah menyaksikan mereka yang gagal dan berhasil, aku tahu siapa yang datang kepadaku dengan membawa keberhasilan dan siapa saja yang datang tanpa membawa hasil yang diharapkan alias gagal. Cury, kau seekor hiu yang unik, kau memiliki keinginan kuat, semangat yang tinggi, dan percaya diri, itu adalah benih-benih yang sangat luar biasa...” tekan Hiu Mentor.
Cury kian penasaran. Sifatnya yang kritis membuat hiu muda ini kembali bertanya, “Kalau kau hiu yang bijaksana, tolong jelaskan kenapa Hiu Kolam berbeda dengan Hiu Lautan. Hiu lautan bisa menjadi raja di lautan luas, sedang kami hiu kolam tidak bisa menjadi apa-apa!”
Hiu Mentor tertawa kecil. “Sudah kuduga, kamu adalah hiu muda yang cerdas. Begini Cury, hiu lautan memiliki hati Entrepreneur yang besar, sedang engkau memiliki hati Entrepreneur yang kecil, dalam dirimu hati seperti itu bukannya tidak ada, akan tapi terlalu kecil untuk mampu jadi raja lautan...”
Hiu Mentor kemudian menoreh di dinding karang 7 perbedaan hiu kolam dan hiu lautan sbb:
1. Hiu kolam terbiasa untuk diberi makan oleh pihak lain sedangkan hiu lautan terbiasa berburu makanan sendiri.
2. Hiu kolam selalu mendapat makanan secara teratur tanpa berusaha sedangkan untuk hiu lautan setiap makanan adalah hasil perjuangan.
3. Hiu kolam tidak tahu bagaimana cara mencari makan di lautan luas sedangkan hiu lautan sangat terbiasa cari makan di lautan luas
4. Hiu kolam takut terhadap lautan luas sedangkan hiu lautan senang berada di lautan luas.
5. Hiu kolam gentar terhadap kerasnya persaingan di lautan luas sedangkan bagi hiu lautan persaingan itu adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari.
6. Hiu kolam takut, khawatir dan menghindar menghadapi ketidak pastian sedangkan hiu kolam sidah biasa menerjang ketiadk pastian.
7. Daya tahan dan daya juang hiu kolam lembek dan kurang berkembang sedangkan hiu lautan memiliki instink dan ketrampilan bertahan hidup yang kuat dan teruji.
Pengertian Cury makin terbuka dan sekarang yang timbul adalah sebuah kecemasan besar dalam dirinya, ia khawatir kalau sepanjang hidupnya hanya sanggup jadi hiu kolam. Hiu Mentor kemudian melanjutkan:
“Perhatikan tanda-tanda fisikmu, kamu dan aku tidak ada perbedaan yang berarti, kita memiliki bentuk dan bobot tubuh yang kelak akan hampir sama; kepala, moncong, gigi dan sirip juga sangat mirip. Kita sesungguhnya sama. Tapi dari kesamaan itu masih ada satu yang kurang, dalam hatimu belum ada hati entrepreneur yang akan menghilangkan 7 perbedaan itu...”
Cury mengernyitkan dahi, matanya kian membesar. Ia bagai api yang tersiram bensin, ”Wah, ini yang aku ingin tahu, tolong ceritakan dulu apa itu hati Entrepreneur...”
Hiu Mentor menyuruh Cury untuk lebih santai. “Mari mendekat sahabat. Begini, seorang entrepreneur adalah seorang seperti Pak Harno, pemilik Pulau Dua Ribu, pemilik kolam tempat kamu, ayah, ibumu dan hiu-hiu lainnya tinggal. Ia mengubah pulau gersang ini jadi tempat wisata yang menyenangkan. Orang tua, orang muda dan anak-anak bisa bergembira di Pulau Dua Ribu. Melalui tempat rekreasi ini, Pak Harno memperoleh keuntungan. Kamu tahu Cury, Pak Harno merasa optimis akan semua usahanya. Dia yakin bahwa seorang entrepreneur yang sukses, dapat mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Jadi seseorang dengan hati entrepreneur adalah seorang memiliki daya ubah yang kreatif sehingga yang tidak bernilai menjadi jauh lebih bernilai, para entrepreneur tidak gentar pada perubahan bahkan mereka merangkul perubahan. Nah, sekarang aku hendak bertanya, beranikah kamu melakukan perubahan, seperti yang dilakukan Pak Harno? Kalau kamu berani, masuklah ke lautan, kita akan ngobrol panjang tentang entrepreneur, aku akan menjelaskannya lebih detail lagi!”
Cury mulai tertarik, tapi ia masih takut-takut. “Ini pasti jebakan, nanti kalau aku sudah berada di laut luas, kau akan memakan aku!”
Mendengar itu, secepat kilat Hiu Mentor membengkokkan jeruji besi bagian bawah yang memang sudah mulai aus itu. Ia dengan cepat menangkap Cury. Katanya, “Hiu muda seandainya aku hendak memangsamu aku tidak perlu mengajakmu keluar jeruji, karena jeruji ini sudah terlalu rapuh. Aku hanya ingin mengajarkan bagaimana engkau dapat hidup di lautan dan bukan di kolam...”
Cury terkejut, takut dan khawatir namun ia tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia ingin menjadi hiu lautan.
“Cepat hiu muda, jangan ragu, inilah peluang untuk berubah, inilah kesempatan untuk bertindak kreatif, inilah saatnya untuk mengambil resiko...” Hiu Mentor meyakinkan dirinya.
Kepercayaan Cury mulai tumbuh. Keberaniannya perlahan-lahan meningkat. Ia mulai merasakan kalau Hiu Mentor adalah pelatih Hiu yang sangat berpengalaman.
Hiu Mentor juga merasakan getaran yang sama. “Aku merasakan bahwa hati entrepreneur dalam dirimu mulai mendapat ruang dan tumbuh lebih besar. Lihat, aku mulai merasakannya!” Hiu mentor memandang lurus ke mata Cury. ”Maukah kamu pergi ke lautan bersamaku, menikmati keindahan laut dan belajar menjadi hiu lautan sejati? Di sana, setiap hari kita akan berjalan bersama dan setiap saat kamu tetap dapat kembali ke kolam.” Terangnya.
Cury diam sejenak. Lalu katanya, “Berikan aku waktu untuk berpikir. Besok aku akan menemuimu lagi di sini, di tempat yang sama.”
--------------------------------------------------------------- End Chapter 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar